Arsip Kategori: FanFiction

First Snow

ff ini bener” terinspirasi dari lagu EXO yg judulnya sama. Pas tau makna dari lagu ini langsung jatuh hati. Dari awal muncul preview lagunya emang punya feeling bakal jadi lagu favorit dan pas keluar fullnya bener aja, ini lagu favorite saya di album Miracle in December dan tiba-tiba aja jadi kepikiran buat bikin ini ff..

***

Seorang pria keluar dari sebuah toko buku dipinggiran kota Seoul, ia rapatkan jaket yang menyelimuti tubuhnya menghindari semilir angin musim dingin yg menerpanya, ia masukkan tangannya kedalam saku jaket lalu berjalan menuju halte bus yg tidak jauh dari toko buku tersebut. Ia duduk dikursi tunggu, menunggu bus yg akan segera menjemputnya pulang. Kembali ia rapatkan jaketnya karena cuaca semakin dingin, “ah, kenapa hari ini begitu dingin?”

Bus yg akan menjemputnya sudah terlihat diujung jalan, pria itu berdiri dipinggir halte dan saat itu salju pertama di hari natal turun. Didalam bus, pria itu termenung menatap keluar jendela. Salju yg terus turun mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yg ia tinggalkan setahun lalu, ‘jika aku bisa memutar waktu kembali ke satu tahun yg lalu, akankah kita tetap bersama?’ ucap sang pria dalam hati.

Hari semakin sore dan salju pun turun semakin lebat. Pria itu turun dari bus, lalu berjalan menuju rumahnya. Dalam perjalanan, ia melihat orang-orang tersenyum bahagia merayakan hari natal bersama pasangan dan keluarga. Tanpa terasa pria itu juga ikut tersenyum, namun bukan senyum yg sama seperti orang-orang yg ia lihat. Sebuah senyum penyesalan dan kesepian yg terus ia rasakan dari setahun yg lalu saat ia pergi meninggalkan gadis yg sangat mencintainya.

Ia terus melangkah, namun bukan menuju rumahnya. Ia biarkan kakinya menuntun kemana ia akan pergi, dan sampailah disebuah taman kecil. Taman yg sangat ia ingat, karna disanalah ia meninggalkan gadis itu. Rasa penyesalan kembali menghantuinya, namun ia terus melangkah menuju taman yg sepi itu. Ia duduk disebuah ayunan, menggerakkan ayunan dengan kakinya. Teringat kenangan indah yg pernah ia lalui dengan gadis itu, dan kenangan buruk saat ia mengakhiri hubungannya. Angin musim  dingin tak lagi ia hiraukan, ia menatap kelangit yg sebentar lagi berubah gelap salju turun menyentuh wajahnya, sesuatu yg basah terasa di pipinya. Apakah ini lelehan salju? Atau airmatanya? Sampai ia sadari ternyata airmatalah yg membasahi pipinya. Ia tersenyum sedih lalu airmatanya menetes lagi dan lagi tanpa bisa ia hentikan. Ia terus mengusap airmatanya yg terus mengalir dengan telapak tangannya.

Saat ia berhasil menghentikan tangisnya, gadis itu tiba-tiba muncul, duduk dengan tenang diayunan yg kosong tepat disebelah pria itu. Pria itu terpaku, diam tak bicara sepatah katapun hanya memandangi sang gadis yg tengah tersenyum sambil berayun pelan.
“Junmyeon oppa” ucap gadis itu setelah menghentikan ayunan lalu menoleh menatap pria yg duduk disebelahnya.
Pria yg dipanggil Junmyeon itu masih diam, mencerna setiap gerakan yg dilakukan gadis itu. Kini, sang gadis tersenyum pada Junmyeon. Senyum yg sangat Junmyeon rindukan, senyum yg membuat hari natal tahun ini menjadi sangat indah.
“Selamat hari natal, Junmyeon oppa”
Junmyeon menundukkan kepalanya, berusaha menahan diri agar ia tak menangis lagi. Namun saat ia menegakkan kembali kepalanya, gadis itu tidak lagi disebelahnya, hanya ayunan yg terus bergerak pelan. Junmyeon sadar ia hanya bermimpi, mimpi yg menurutnya paling indah. Senyum terbentuk di bibirnya, ia berdiri menatap ayunan disebelahnya, “Selamat hari natal Shim Hyeri, aku mencintaimu”

Junmyeon pergi meninggalkan taman yg penuh dengan kenangan tentang Hyeri, gadis yg dulu pernah mencintainya dan yg sekarang sangat ia cintai.

***

Maaf kalo ff nya pendek + ga jelas gitu.. cuma menuangkan yg ada dipikiran saya aja, hihihi :D

I’m Back to Love You Again (Part 1)

FF ini sebenernya udah mendekam lama di hape saya, cuma belum ada ide buat lanjutinnya lagi dan ini FF juga merupakan lanjutan dari ‘Memories’ yg sebelumnya udah diposting..
Semoga setelah diposting mendapatkan ide buat lanjutin ini cerita, amin amin amin o:)

Happy Reading !!!

—-

Sudah 2 bulan semenjak kepergian Hyeri dari kantor, dan aku masih tidak tahu apa yang membuat dia menungudurkan diri. Hanya sebuah surat pengunduran diri yang dia tinggalkan diatas mejaku 2 bulan lalu, setelah itu Hyeri seperti hilang ditelan bumi. Aku tidak tahu bagaimana kabarnya, dan aku pun tidak bisa menghubunginnya. Kucoba meneleponnya, tapi tidak bisa. Sepertinya dia telah mengganti nomor teleponnya. Aku pun mengunjungi apartemen tempat Hyeri tinggal, tapi kata tetangga sebelahnya, dia telah pindah seminggu yang lalu. Kutanyai satu per satu karyawan yang dekat dengan Hyeripun tidak ada yang tahu keberadaannya.

Aku menghempaskan tubuhku dikursi, lelah sudah aku mencari Hyeri untuk kesekian kalinya. Kupijat pelipisku yang sedikit berdenyut menghilangkan penat didalam otakku. Aku merasa aneh dengan diriku sendiri, karena aku tidak pernah seperti ini pada wanita. Sangat merasa khawatir dan gelisah. Entah sudah berapa banyak wanita yang aku kenal, tidak pernah aku sekhawatir ini jika tidak melihatnya dalam waktu yang lama. Hatiku berkata Hyeri gadis yang berbeda, tapi aku tetap tidak mengerti apa yang berbeda dengan Hyeri. Sampai saat dia pergi seperti ini. Rasa takut kehilangan tiba-tiba menghantuiku.

‘Apa yang membuat Hyeri berbeda?’
Lamunanku buyar seketika ketika pintu terbuka dan Kyuhyun muncul dihadapanku. “Ada perlu apa? Aku sedang tidak ingin diganggu” langsung saja aku bertanya karena memang aku sedang ingin sendiri saat ini.
“Aku hanya ingin memberimu informasi tentang Hyeri” ujar Kyuhyun. Sontak aku langsung menatapnya langsung.
“Kau berhasil menemuinya? Dimana dia sekarang?” Tanpa aku sadari sendiri, pertanyaan itu langsung terlontar dari mulutku.
“Hei hei hei, sabar dulu hyung” Kyuhyun malah duduk santai di kursi. Aku langsung menghampirinya dan duduk disebelahnya. Aku masih diam menunggu dia melanjutkan ucapannya. Tapi Kyuhyun malah asik menatap ruanganku seolah dia baru pertama kali kesini.
“Kyu, kau tahu aku sedang menunggumu” Kyuhyun menatapku, lalu tertawa. Seolah yang kuucapkan adalah lelucon.
“Hehe, maaf hyung”
“Sekarang katakan dimana kamu bertemu Hyeri?” Otakku lagi-lagi tidak memikirkan logika yang ada, hanya ada Hyeri untuk saat ini dan….entah sampai kapan.
“Siapa bilang aku bertemu Hyeri?” Kyuhyun berbicara dengan polosnya, “aku hanya bilang punya informasi tentang Hyeri” tambah Kyuhyun.
“Haaah” aku menyandarkan tubuhku kebelakang, menutup wajahku dengan kedua tanganku mencoba menahan untuk tidak menendang Kyuhyun keluar ruangan. “Kau tahu, sudah berapa banyak informasi yang kau berikan tapi semuanya sia-sia.”

Kyuhyun mengeluarkan selembar kertas dari saku jasnya. “Ini alamat rumah teman Hyeri. Yang aku dengar mereka sudah bersahabat sejak sekolah” ucap Kyuhyun.
Aku mengambil kertas itu dan membaca alamat yang tertera disana, “lalu?”
“Mungkin saja dia tahu keberadaan Hyeri” tambah Kyuhyun.
Aku baca lagi alamat tersebut berulang kali. Merasa tidak asing dengan alamat itu. Pelipisku berdenyut sedikit memikirkannya.
“Hyung, kau tidak apa-apa?” Kyuhyun menghampiriku.
“Aku baik-baik saja Kyu” balasku. Aku tidak mau Kyuhyun melaporkan keadaanku pada orang tuaku jika aku sering merasa pusing. Belakangan ini aku memang merasa sedikit tidak enak badan dan pelipisku sering sakit jika memikirkan sesuatu. Apalagi tentang Hyeri.
“Apa kau yakin kali ini?” Tanyaku pada Kyuhyun untuk memastikannya.
Kyuhyun mengangkat kedua bahunya, “entahlah hyung. Dicoba saja dulu, mungkin kali ini berhasil” ucap Kyuhyun.
“Baiklah” kataku. Aku perhatikan lagi alamat tersebut, dan tiba-tiba Kyuhyun menanyakanku pertanyaan yang aku sendiri juga bingung untuk menjawabnya. “Hyung, kenapa kau bersikeras mencarinya?”
Aku terdiam, bingung harus menjawab apa. Aku sendiri pun bingung kenapa aku harus mencari Hyeri. Hanya saja hatiku yang berkata demikian.
“Entahlah Kyu, aku hanya mengikuti kata hatiku” Kyuhyun tersenyum mendengar pengakuanku. “Lagipula dia itu seorang sekertasi yang hebat, jarang kutemui yang seperti dia” tambahku lagi sebelum bocah itu berpikiran macam-macam.
Aku bangun dari dudukku dan memandang keluar jendela yang menghadap ke jalan raya. Merasakan semilir angin menerpa wajahku. ‘Dan aku merasa nyaman berada didekatnya’ tambahku dalam hati.

Hari libur adalah hari yang paling aku tunggu-tunggu. Terbebas dari kerjaan sehari-hari yang terus saja bertambah tiada hentinya. Aku menyiram bunga-bunga dan tanaman yang sudah menjadi rutinitasku dipagi hari. Melihat bunga-bunga tumbuh mekar memberiku kepuasan tersendiri.
“Menyiram tanaman sudah, sekarang tinggal membuat sarapan untukku sendiri” kataku pada diriku sendiri. Tinggal seorang diri itu memang tidak mengenakkan. Apa-apa harus sendiri, tidak ada yang bisa dimintai pertolongan. “Kenapa kau harus pergi Hyeri-sshi. Sudah enak-enak ada yang membantuku mengurus rumah” keluhku. 2 bulan yang lalu Hyeri pidah dari apartementnya dan tinggal dirumahku. Tapi hanya 2 minggu saja.

Kesibukkanku memotong sayuran terhenti karena bunyi bel pintu rumah. “Siapa yang bertamu di hari libur seperti ini? Pagi-pagi pula” aku melepas apron yang menempel ditubuhku, bergegas membuka pintu. Dan betapa kagetnya aku saat membuka pintu melihat seorang pria berdiri disana.
“Apa benar ini kediaman Kim Eunsae?” Suara pria ini membuyarkan semua pikiranku. “Ya, aku Kim Eunsae”
“Ah, aku Kim Jongwoon” dia mengulurkan tangannya dan tersenyum, aku pun langsung menjabatnya.
“Ya, aku tahu” tanpa sadar aku mengucapkan kata itu membuat Jongwoon bingung pastinya. Dan benar saja, dia seperti binggung mendengar ucapanku barusan.
“Oh, silahkan masuk” aku berusaha mengalihkan suasana dan mempersilahkan dia masuk.

Kami berdua duduk di ruang tengah dan saling diam beberapa saat. Aku diam karena aku sempat tidak percaya bahwa orang yang ada dihadapanku ini Kim Jongwoon, kekasih sahabatku dan dia seolah tak ingat denganku. Yah memang sebenarnya dia tidak ingat.
“Jadi, ada perlu apa kau mencariku?” Aku memulai percakapan, mau sampai kapan kami saling diam.
“Ah iya, ku dengar kau sahabat Shim Hyeri” ujarnya.
‘Hei Jongwoon!! Kau tahu benar aku ini sahabat kental Hyeri!!’ Batinku berkata, untung saja aku tak ucapkan.
“Iya. Lalu kenapa?” Tanyaku seolah tak tahu tujuannya.
“Kau tahu kalau Hyeri sudah berhenti bekerja?” Tanya Jongwoon hati-hati.
“Iya, aku tahu” jawabku sekenanya. Dia terlihat ragu untuk bertanya lagi.
“Apa kau mau tahu keberadaan Hyeri saat ini?” Aku langsung menebak apa yang dia pikirkan dan Jongwoon pun langsung melihatku.
“Apa kau tahu dimana dia sekarang?”ujarnya tanpa ragu sedikitpun.

Aku ragu apa Jongwoon benar-benar hilang ingatan atau tidak. Dari pancaran matanya terlihat dia sangat ingin bertemu dengan Hyeri. Mata tidak bisa menyembunyikan sesuatu, itulah yang sekarang terlihat dimata Jongwoon. Dia masih menatapku, mungkin menunggu jawabanku. Kualihkan pandanganku kebawah, tak berani menatap matanya langsung. Takut aku mengatakan yang sebenarnya, “aku tidak tahu.”
Kulihat Jongwoon benar-benar kecewa dengan apa yang kukatakan. Mungkin dia berharap lebih dari itu. Tapi aku tak bisa ingkari janjiku dengan Hyeri.

*flashback*
“Yah, kau benar-benar akan pergi? Apa tak bisa kau tinggal disini denganku?” Aku membantu Hyeri yang sedang berkemas dikamar tamu rumahku. Bukan membantu sih, aku mengeluarkan barang-barangnya yang sudah tertata rapih di dalam koper. Hyeri melirikku sekilas dan memukul kecil punggung tangaku.
“Maaf Eunsae-ya, aku tidak bisa tetap disini” ujarnya sembari membereskan kembali barangnya.
“Kenapa tidak bisa? Aku malah senang kau tinggal denganku. Kau tahu, tinggal sendiri itu sangan membosankan dan melelahkan” ucapku panjang lebar tapi Hyeri tetap saja membereskan barang-barangnya. “Ayolah” bujukku lagi.
Hyeri menatapku diam, lalu melepaskan tanganku yang memengang lengannya, “maaf Eunsae-ya” ujar Hyeri.
“Baiklah” aku sudah tidak bisa membujuknya lagi. “Lalu kau akan pindah kemana? Apa sudah dapat tempat tinggal baru?”
“Kau pasti tahu satu-satunya tempat yang bisa kukunjungi” balas Hyeri tanpa melihatku.
“Kau yakin akan pergi kesana?” tanyaku meyakinkan Hyeri dan Hyeri mengangguk.
“Aku akan sangat merindukanmu kalau begitu” ujarku murung. Hyeri melihatku dan memelukku.
“Hey, kenapa kau murung? Kita masih berada di negara yang sama. Kau bisa berkunjung nanti” aku hanya bisa mengangguk didalam pelukannya.
“Oh ya, kau jangan beri tahu siapapun aku pindah kemana ya?” aku melepaskan pelukan Hyeri dan menatapnya aneh, “memang kenapa?”
“Tidak apa-apa” hanya itu yang Hyeri ucapkan.
“Termasuk dia?”
Hyeri diam, lalu mengangguk. “Aku hanya mau memulai kehidupanku yang baru. Lagipula dia juga tidak akan datang mencariku” ujar Hyeri.
*flashback end*

Aku mengantar kepulangan Jongwoon sampai depan gerbang rumah. Sangat jelas terpancar dari raut wajahnya kalau dia benar-benar kecewa. Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur berjanji pada Hyeri. Meskipun ingatannya tentang Hyeri hilang, tapi hatinya tetep mengingat Hyeri.
‘Maaf Hyeri, ini yang terbaik untuk kalian berdua’ batinku. Aku segera masuk kedalam mencari secarik kertas dan menuliskan sebuah alamat.
“Jongwoon-sshi!!” Aku menghampiri mobilnya yang masih terparkir di depan rumahku.
“Ini. Pergilah kesana” aku berikan kertas itu padanya. Dia membaca alamat itu dan melihatku.
“Itu alamat rumah orang tua Hyeri, dia tinggal disana” ujarku. Dan seperti dapat undian berhadiah, raut wajahnya terlihat senang sekali.
“Terima kasih Eunsae-sshi. Tapi tadi kau bilang kau tidak tahu dimana Hyeri” tanya Jongwoon.
“Kalau masalah itu, lebih baik kau tanyakan saja pada Hyeri nanti” balasku. Memang benarkan, Hyeri yang menyuruhku jangan beritahu siapapun.
“Sekali lagi terima kasih” ujarnya, aku mengangguk menanggapinya.
“Cepat suruh dia kembali kesini” ucapku, lebih tepatnya meminta. Dia tersenyum dan mengangguk.
“Oh iya, sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya? Aku merasa pernah melihatmu disuatu tempat dan rumahmu terasa tidak asing bagiku”
Aku terdiam mendengar ucapannya. “Mungkin dulu kau pernah lewat sini dan melihatku” jawabku seraya tersenyum padanya.
“Mungkin. Kalau begitu aku pergi dulu” pamit Jongwooon dan mobilnya pun melaju meninggalkan rumahku.

Keesokan harinya, rutinitas kembali seperti biasa. Jongwoon berkutat dengan kertas-kertas dihadapannya yang tidak memberinya waktu untuk bernafas. Semenjak jabatannya naik, tugasnya bertambah banyak dan menyita hampir 24 jam waktunya. Makanpun kalau tidak diingatkan akan terlupakan begitu saja. Dulu, sewaktu Hyeri masih ada, dialah yang mengingatkan Jongwoon untuk makan dan Jongwoon merasa senang sekaligus nyaman dengan perlakuan Hyeri yang seperti itu padanya. Tapi sekarang tidak ada yang mengingatkannya lagi. Sekarang, ia sendiri diruang kerjanya. Jongwoon kadang merasa ia sangat merindukan keberadaan Hyeri di dekatnya. Meskipun ia sendiri tidak tahu alasannya, ia merasa nyaman berada didekat Hyeri. Melihat gadis itu dengan tekun bekerja. Diam-diam Jongwoon sering memperhatikan Hyeri, memandang lama gadis itu dan bila Hyeri menyadarinya, Jongwoon mengalihkan pandangannya segera. Ia sendiri juga merasa aneh dengan apa yang ia lakukan. Tapi Hyeri membuatnya nyaman dengan memandangnya dan memberikan rasa yang berbeda. Ada saat dimana ia melihat Hyeri tersenyum ceria dan itu membuatnya senang. Kadang kala Hyeri terlihat murung dan sedih, saat itu juga Jongwoon ingin menghiburnya membuat ia tertawa. Bahkan Hyeri pernah terlihat sangat kacau, dengan wajah pucat seperti kurang tidur dan mata yang sembab membuat Jongwoon ingin berlari memeluknya dan menanyakan apa yang terjadi padanya. Tapi Jongwoon tahu bahwa ia bukan siapa-siapa gadis itu, kenyataan itulah yang membuat Jongwoon tidak berani melakukan semua itu.

Pintu terbuka dan seorang wanita paruh baya memasuki ruang kerja lama Jongwoon dan Hyeri. “Sedang apa kau disini nak?” Wanita itu menghampiri Jongwoon yang duduk di kursi lamanya.
“Ibu? Aku hanya beristirahat sebentar” ujar Jongwoon sejujurnya. Ya, dia memang butuh mengistirahatkan pikirannya yang sudah mulai kacau.
“Begitu? Tapi kenapa disini? Kau bisa beristirahat diruanganmu sendiri” balas ibunya yang merasa ada yang aneh dengan anaknya. “Kau memikirkan gadis itu lagi?” Jongwoon menatap ibunya yang sedang menatapnya juga.

Ia tahu ibu nya tidak suka dengan Hyeri semenjak insiden di rumah sakit dulu. Saat ia sadar dari masa komanya pasca kecelakaan yang menimpanya. Hyeri memasuki ruang inapnya dan ibu nya segera menarik Hyeri keluar ruangan. Ketika Jongwoon kembali bekerja dan bertemu Hyeri lagi, Jongwoon juga sempat bertanya pada Hyeri, tapi gadis itu bilang ia memang salah masuk ruangan waktu itu dan Jongwoon tidak mempermasalahkannya lagi.

“Tidak ibu. Aku hanya ingin lepas dari tumpukan kertas yang membosankan disana” elak Jongwoon sebisanya. Ibunya pun mempercayai alasan anaknya.
“Kalau kamu merasa lelah, lebih baik kau beristirahat dirumah” ia menghampiri Jongwoon dan mengusap lembut rambut anak satu-satunya itu.
“Ibu aku bukan anak kecil lagi” elak Jongwoon seraya menepis tangan ibunya halus.
“Baiklah. Tapi pastikan nanti malam kau jangan sampai terlambat.”
“Bu, sudah kubilang aku tidak menyukai acara perjodohan itu. Aku bisa mencari pasangan hidupku sendiri” Jongwoon pergi meninggalkan ibunya yang masih berdiri ditempatnya.

Jongwoon kembali keruang kerjanya, menghempaskan tubuhnya dengan kasar dikursi kerjanya. Ia longgarkan sedikir dasi yang mencengkram lehernya, mengatur nafasnya yang memburu. Ia tidak suka ibunya menjodoh-jodohkan dirinya dengan gadis pilihan ibunya, tapi ibunya malah terus memaksa Jongwoon untuk tetap mengikuti keinginannya. Jongwoon tidak bisa menolak untuk ikut karena hanya akan membuat malu keluarganya tapi dia juga tidak suka. Ia pejamkan matanya, mencoba mencari jalan keluar dari acara perjodohan itu. Namun lagi-lagi gadis itu muncul dalam pikiran Jongwoon, Hyeri, dan pelipisnya kembali berdenyut.

“Kenapa setiap aku memikirkan Hyeri kepalaku terasa sakit?” kutopang kepalaku dengan kedua tanganku, memijit perlahan pelipisku yang masih berdenyut. Kupejamkan mataku kembali, dan sekelebat gambaran muncul dalam pikiranku seperti sebuah video.

Kecelakaan. Aku melihat diriku mengalami sebuah kecelakaan dan seorang gadis menghampiriku. Aku tidak bisa melihat jelas wajahnya, namun terasa tak asing bagi ku.

Terdengar suara pintu terbuka, kuangkat perlahan kepalaku dan kulihat Kyuhyun memasuki ruanganku.

“Hyung!! Kau kenapa?” tanya Kyuhyun yang kini berdiri disampingku dengan sorot mata penuh kecemasan.

“Aku tidak apa-apa, hanya merasa sedikit pusing” kucoba untuk terlihat biasa-biasa saja di depan sepupuku itu, namun rasa sakit ini tidak bisa diajak kompromi. “Ah!!” Rintihku seraya mencengkram kuat rambutku berusaha menghilangkan rasa sakitnya. Perlahan semuanya menjadi gelap, hal terakhir yang bisa kutangkap adalah wajah Kyuhyun yang terlihat pucat.

Story About Us (Part 9) Hyeri’s Story

Hai hai hai saya hadir kembali membawa sepenggal ff gaje, tapi ini bukan murni dari ide saya. Setengah dari ff ini milik teman saya yang juga hobi nulis ff. Judul aslinya The Story About Us karangan Dhea Fitriya, saya cuma lanjutin cerita tentang  Hyeri nya, maka dari itu judulnya ditambah Hyeri’s Story. Full ff dari The Story About Us ini bisa dibaca disini .

Yuk silahkan dibaca, maaf yah kalo gaje dan banyak typo disana sini, maklun authornya masih pemula, hihihi …

****

“Kau mau pergi kemana?” tanya Kris
berdiri bersandar pada dinding, menatap Hyeri dengan tajam. Mereka berdua berada didepan pintu dorm SHINEE.
“Tentu saja untuk datang ke pesta comebacknya mereka. Kau tidak masuk?” tanya Hyeri binggung dengan sikap kekasihnya.
“Aku sudah masuk tadi, dan memberitahu mereka aku tidak bisa lama – lama. Karena aku ada janji kencan denganmu.”
“Tapi kita tidak punya janji kencan,” kata Hyeri sembari mengingat – ingat.
“Well, sekarang kita berkencan,” Kris menarik tangan kekasihnya itu untuk mengikutinya.
“Ya! Gege! Paling tidak aku harus masuk dulu untuk memberikan ucapan selamat!” tolak Hyeri.
“Tidak perlu,” pria itu masih menariknya. Dan tubuh Hyeri mengikutinya dengan mudah, padahal Hyeri sudah menggunakan tenaganya!

“Beri aku alasan kenapa aku tidak
boleh ikut ke pesta itu?” akhirnya ia berhasil melepaskan diri dari Kris.
“Disana banyak biasmu, dan aku muak melihatmu bersama mereka! Tidak bisakah kau bersikap seperti Eunsae, yang hanya suka melihat idolanya
diatas panggung?” Kris mulai bersikap posesif.
“Setelah aku bekerja disini, aku tidak melihat mereka sebagai idola lagi, Gege! Tapi teman, sahabat! Tidakah kau mengerti itu? Dan berhenti bersikap posesif! Yang seharusnya takut
kekasihnya direbut orang lain itu aku! Lihat, disana akan banyak gadis-gadis cantik dan populer seperti SNSD dan f(x)! Dan aku tahu mereka semua mengagumimu! Aku juga cemburu melihat mereka mendekatimu, tapi aku tidak pernah melarangmu untuk tidak pergi ke pesta!” jelas Hyeri tidak terima dengan perbuatan kekasihnya itu.
Kris menghembuskan napas panjang.
“Kau lebih sedikit merasakan cemburu
dibandingkan aku! Paling kau akan cemburu saat pesta seperti ini, atau SMTOWN Concert. Tapi aku? Setiap waktu kita bersama member EXO, setiap kali pula aku merasa cemburu!” katanya
frustasi.
“Karena Luhan? Come on, Gege! Aku dan Luhan hanya sahabat! Dan kau tahu itu! Lagipula mau sampai kapan kau cemburu seperti ini?”
“Luhan itu pernah menempati sudut dihatimu.” Hyeri tidak mengelak dan tidak menyalahkan pernyataan itu.
“Tapi sekarang hanya ada kau dihatiku. Itu kalau kau belum tahu.”
“Aku tahu. Hanya saja, wanita mana yang bisa bertahan dengan perhatian yang Luhan berikan?”
“Dia memang seperti itu sejak dulu. Aku dan Eunsae menjulukinya malaikat.”
“Malaikat? Bagus sekali!” sindir Kris tidak suka.
“Tapi aku mencintai manusia dan bukan malaikat! Lebih spesifik lagi, manusia bernama Wu Yifan, Kris Gege yang sekarang berada dihadapanku,” gadis itu memeluk kekasihnya menenangkan. Kris
mengangguk dan membalas memeluknya dengan erat.
“Jadi aku boleh masuk bukan? Aku janji hanya ingin mengucapkan selamat kepada mereka, setelah itu kita akan berkencan” ucap Hyeri lalu dibalas dengan anggukkan  Kris.

Kris menemani Hyeri datang ke acara pesta comeback SHINEE. Ia terus menggenggam tangan Hyeri seolah tak ingin gadis itu pergi meninggalkannya, bahkan saat Hyeri mengucapkan selamat pada member SHINEE satu persatu membuat member SHINEE sedikit iri. Sesuai janji Hyeri, ia hanya mengucapkan selamat pada semua member SHINEE setelah itu ia berpamitan langsung.
“Pasti kalian berdua ingin berkencan. Ah aku jadi iri dengan hubungan kalian berdua. Kapan SooMan songsaenim akan mengijinkanku berkencan” ucap Onew sambil memasang wajah memelas. Member yg lain sontak tertawa melihat tingkah laku leader mereka.

Setelah berpamitan, Hyeri dan Kris segera keluar dari ruang pesta dan di depan pintu keluar, mereka berdua berpapasan dengan Luhan.
“Hyeri-ya, ku kira kau tidak bisa datang. Kris hyung bilang kalian akan pergi berkencan.”
“Kami memang akan pergi” Kris melepaskan tangan Hyeri dan kini berpindah meraih pinggang Hyeri membuat gadis itu semakin mendekat padanya.
“Oh, ya, kami baru akan pergi” Hyeri mengerti apa yg dilakukan Kris hanya karena ia cemburu pada Luhan. Didalam hati Hyeri, ia sangat senang ternyata Kris benar-benar mencintainya.

Luhan tahu jika Kris sering merasa cemburu saat ia bersama dengan Hyeri, namun Luhan selalu saja sengaja membuat Kris cemburu terhadapnya. Seperti saat ini dengan sengaja Luhan mengusap lembut kepala Hyeri didepan Kris, “Jangan pulang terlalu malam, udara malam tidak bagus untuk kesehatanmu” ucap Luhan sambil tersenyum kearah Hyeri.
“Hyung, jangan pergi terlalu jauh. Kau tahu kegiatan kita mulai padat, aku tidak mau jika Hyeri sakit” tambah Luhan yang kali ini memasang wajah serius pada Kris. Lalu setelah itu Luhan berlalu pergi kedalam pesta sambil menahan tawanya karena melihat wajah Kris yg menahan rasa kesalnya.

Sementara itu Hyeri masih diam atas ucapan Luhan dan apa yg Luhan lakukan tadi. Mengusap kepalanya  di depan Kris, ‘awas kau rusa jelek!!’ Runtuk Hyeri dalam hati. Saat Hyeri berbalik menatap Kris, ternyata Kris sudah lebih dulu melihat Hyeri dan menatapnya dengan tajam.
“Apa? Bukan aku yg mau” ucap Hyeri membalas arti tatapan kekasihnya. Sedangkan Kris hanya menghela nafas, “kalau dia bukan sahabatmu.. sudahlah ayo kita pulang” Kris melepaskan tangannya dari pinggang Hyeri kemudian berlalu pergi.  
“Bukankah kita akan berkencan?” Hyeri menyusul Kris yg berjalan didepannya.
“Ini sudah malam, nanti malaikat mu marah jika kau pergi” ucap Kris tanpa menoleh kebelakang. Hyeri menarik lengan Kris agar ia bisa menatap kekasihnya, “ini belum terlalu malam. Gege tunggu disini, aku segera kembali”
Hyeri segera pergi meninggalkan Kris tanpa memberitahunya ia akan pergi kemana. Sesaat kemudian, Hyeri kembali dengan 2 gelas minuman dan 1 kantong plastik kecil berisi makanan. Hyeri menyerahkan segelas minuman pada Kris, lalu menggandeng tangan Kris dan menyeretnya mengikuti Hyeri.
“Ini sudah ma..”
“tempat nya tidak jauh” Hyeri menyelak perkataan Kris, “gege hanya perlu mengikutiku” tambah Hyeri.

Mereka berdua sampai diatap gedung SM, Hyeri melepaskan tangan Kris lalu melangkah maju.
“Wah hari ini bintangnya sedang banyak” ucap Hyeri antusias sambil menatap kelangit malam lalu duduk bersila dibawah. Kris hanya memandangi kekasihnya yg terlihat senang hanya karena melihat bintang. Ia juga tidak pernah berpikiran untuk berkencan ditempat seperti ini. Perlahan Kris menegadahkan kepalanya keatas, melihat bintang-bintang yg membuat kekasihnya senang.
“Gege sedang apa disitu?” Suara Hyeri membuyarkan pikirannya. “Kemarilah” Hyeri menepuk tempat disebelahnya. Kris menghampiri Hyeri lalu duduk tepat disebelanya.
“Indah bukan?”
Kris melihat Hyeri tengah menatap langit malam bertabur bintang dengan sebuah senyum terukir diwajahnya membuat Kris juga ikut tersenyum dan memandang langit malam.

Hyeri menarik pelan lengan Kris, “aaa…” sebuah kimbab menyambut Kris. “Seharian ini aku belum melihatmu makan. Buka mulutmu” perintah Hyeri dan Kris menurut.
“Enak kan? Aku selalu membelinya di sebelah gedung. Jika sore hari tiba, toko itu sedang ramai dikunjungi. Kau juga harus banyak makan, lihat badanmu terlalu kurus” Kris hanya tersenyum mendengar celotehan kekasihnya, tapi inilah yg Kris inginkan, sebuah perhatian dari orang yg ia sayangin. “Arasseo.. aaa” Kris membuka mulutnya berharap mendapat suapan kimbab lagi dari Hyeri.

Hyeri tertawa kecil melihat tingkah kekasihnya yg sewaktu-waktu bisa bersikap seperti anak kecil, “tut tut tut kereta api lewat”
“Yah! Kau kira aku anak kecil?” Kris tidak terima diperlakukan seperti itu. “Memang kau masih kecil. Cepat makan kimbab mu tanganku sakit” omel Hyeri dan Kris memakan kimbab nya dengan wajah masam, lagi-lagi Hyeri tersenyum melihat tingkah kekasihnya.
“Luhan memang seperti itu, bukan hanya padaku. Eunsae juga sangat diperhatikan olehnya. Itulah mengapa aku dan Eunsae menjuluki Luhan malaikat. Terkadang memang sikapnya membuat jantungku berdegup cepat, itu karena aku takut gege melihatnya dan salah paham. Tapi sekarang, perasaanku pada Luhan sudah hilang sepenu..”
Ucapan Hyeri terhenti karena Kris menciumnya tiba-tiba, “arasseo, tapi bisakah kau tidak terus membicarakannya? Jujur aku sedikit cemburu jika kau bersamaku tapi yg kau bicarakan Luhan” ujar Kris masih menangkup wajah Hyeri. “Dan sekarang kau juga harus banyak makan. Kau juga terlihat kurusan dari sebelumnya. Aku tidak mau kau jatuh sakit. Buka mulut mu” Kris mengambil sepotong kimbab dan menyuapi Hyeri. Hyeri tersadar dari lamunannya dan memakan kimbab lalu segera memalingkan wajahnya menutupi pipinya yg merona.
“Kau terlihat menggemaskan dengan pipi merahmu” Kris menggoda kekasihnya dan sontak Hyeri menutupi pipinya dengan kedua tangannya. “Yah, kenapa harus kau tutupi?” Kris mencoba melepaskan tangan Hyeri dari wajahnya.
“Jangan pernah melakukan itu lagi dengan tiba-tiba” omel Hyeri masih mencoba menutupi wajahnya, namun kini tangannya dipegang oleh Kris.
“Jadi lain kali aku harus bilang dulu padamu? Baiklah, aku ingin menciummu” ujar Kris lalu segera mencium Hyeri lagi.
“Yah!!”
“Kenapa kau masih marah? Kan aku sudah bilang tadi. Apa aku perlu mengulangnya? Aku ingin menciummu”
“Aku mendengarnya! Tapi tidak seperti itu juga maksudku” bantah Hyeri. Namun Kris menikmati momen dimana kekasihnya tidak dapat berkutik lagi. “Aku tidak mengerti maksudmu”
“Maksudku… sudahlah tidak perlu dipikirkan”
“Jadi aku boleh melakukannya lagi?”
“Tidak!!!”
“Waeee..???”

Dan malam itu mereka berdua menghabiskan malam diatap sambil bersendagurau disaksikan ribuan bintang dilangit malam.

-FIN-

Story of SeBaekYeol

image

Hun: cuacanya bagus ya hyung
Baek: tau ah!! Gue kangen Channie ToT

image

Hun: daripada hyung mikirin Chanyeol hyung mending keliling aja yuk !!
Baek: ga mau!! Gue mau nya Chanyeol !!

image

Han: Sehunaaa!! Knp lo selingkuh sama Baekhyun?? Lo ga cinta gue lagi??
Kai: gimana nasip nya Chanyeol hyung tuh?

image

Chan: gue ga peduli *mehrong*

image

Chan: sekarang kan gue udah punya Kris hyung

image

Hun: tuh kan!! Chanyeol hyung udah punya Kris hyung. Ngapain mikirin dia lagi sih
Baek: iya lo bener *hiks*

Call You Mine (Part 2)

“Apa dia tidak akan datang?” Luhan kini berada di airport untuk mengantar kepergian Kris.

“Entahlah, kemarin malam dia bilang akan mengusahakan untuk datang.”

*flashback*
Kris mengantar Hyeri pulang, sama seperti saat pergi tadi tidak ada yang berbicara sampai mobil Kris tepat berhenti di depan rumah Hyeri. Hyeri segera turun dari mobil namun dengan cepat tangan Kris memegang lengannya.

“Besok kau akan mengantarku kan bersama Luhan?”

“Akan aku usahakan, besok sore aku ada jadwal kuliah” tangan Kris kini tak lagi menahannya, tapi Hyeri masih duduk disamping Kris.

“Oh iya, ini hadiah ulang tahunmu dariku. Aku tidak tahu akan cocok untukmu atau tidak. Aku bingung ingin membelikanmu apa dan kebetulan kemarin aku sedang jalan-jalan dengan temanku dan melihat syal itu.” Hyeri memberikan syal buatannya pada Kris. Ia tidak berani mengatakan yang sebenarnya, jika syal itu buatan Hyeri sendiri. Tadinya Hyeri akan memberikan syal itu saat ia sudah menyatakan perasaannya. Namun keadaan berkata lain, Kris akan pergi meninggalkannya.

Hyeri turun dari mobil dan tanpa berbalik ia langsung berjalan meninggalkan Kris yang masih menatap punggung Hyeri. Hyeri enggan membalikkan badannya karena dengan sekuat tenanga ia berusah untuk tidak terdengar Kris jika ia sedang menangis.
*flashback end*

Kris menatap syal pemberian Hyeri lalu tersenyum sesaat. Ia tahu jika gadis itu berbohong, tapi ia tidak ingin berharap terlalu jauh. Mungkin dengan kepergiannya bisa memberi gadis itu cukup waktu untuk berfikir.

Pengeras suara mengumumkan penerbangan Kris telah dibuka. Kris melihat kearah gerbang masuk sekali lagi, berharap Hyeri datang mengantarnya. Luhan juga sama, melihat kearah gerbang masuk. Tapi tidak ada tanda-tanda kedatangan gadis itu sampai sekali lagi pengumunan pesawat yang membawa Kris pergi bersuara.

“Kemana anak itu? Sudah kutelepon berkali-kali tidak diangkat” Luhan sibuk menelepon Hyeri yang tak kunjung dijawab.

“Sudahlah. Mungkin dia masih di kampus, lagi pula aku harus segera berangkat. Aku percayakan dia padamu.”

Luhan hanya mengangguk menyanggupi permintaan sahabatnya itu. Lalu ia menarik Kris kedalam pelukannya, “jaga dirimu baik-baik. Kabari aku jika kau sudah tiba disana.”

Kris berjalan menuju gerbang pemeriksaan tiket, sebelum akhirnya ia masuk kedalam. Tersirat rasa sedikit kecewa karena seseorang yang ia tunggu jusrtu tidak hadir. Tapi ia bersyukur, mungkin jika gadis itu datang, ia akan berubah pikiran dan akan tetap berada disisinya karena sejujurnya ia tidak bisa jauh darinya.

Dari arah gerbang masuk, seorang gadis dengan nafas terengah-engah berlari mencari seseorang. Ia melihat kesekeliling dan terus berlari. Sampai akhirnya ia berpapasan dengan seseorang yang ia kenal.

“Luhan!!” Hyeri berlari mendatangi Luhan yang tengah duduk dikursi tunggu.

“Hyeri? Kau dari mana saja?” Luhan segera berdiri saat mendapati Hyeri yang kelelahan.

“Dimana Kris?” Tanya Hyeri langsung dengan nafas yang belum teratur. Luhan diam, ia tak tega memberitahunya. Hyeri masih menatap Luhan menanti jawaban tapi Hyeri tahu bahwa Kris sudah pergi. Ia hanya ingin memastikannya.

“Dia sudah pergi.”

Hyeri diam, tidak ada respon dan tatapannya kosong entah kemana, nafasnya mulai teratur. “Aku terlambat ya?”

Perlahan Hyeri bangun dari duduknya, “ayo kita pulang” ia berjalan meninggalkan Luhan yang masih mematung. Menyadari Luhan tak bergeming dari tempatnya, Hyeri berbalik menatap Luhan, “mau sampai kapan kau diam disana? Antarkan aku pulang kerumah, tadi aku kesini naik taksi.”

Luhan mengerjapkan matanya, menyadari ada yang aneh dengan sahabatnya itu lalu mengikuti Hyeri dari belakang. Ia tahu Hyeri tak mungkin bisa setenang itu, tapi ia putuskan untuk tidak menyentuh titik tersebut. Biarlah sahabatnya itu seperti ini, setidaknya sampai mereka menemukan tempat yang tenang.

Selama diperjalanan, Luhan sesekali melirik kearah kursi penumpang disebelahnya tempat Hyeri duduk. Ia perhatikan ekspresi sahabatnya, datar, hanya itu yang terlihat. Hyeri tengah memandang lurus kedepan dengan tatapan yang sangat terlihat jelas hampa. Luhan bisa tahu itu semua, karena sebelumnya ia tidak pernah melihat sahabatnya seperti ini.

Mobil Luhan berhenti tepat di depan gerbang rumah Hyeri. Ia melirik sabahabatnya sekali lagi, “Hyeri-ya” ujar Luhan namun tak ditanggapinya. Hyeri masih memandang lurus kedepan.

Perlahan Luhan menyentuh pundak Hyeri. Mata Hyeri mengerjap sekali dua kali lalu melihat kearah Luhan.

“Sudah sampai? Terima kasih Luhan” Hyeri hendak membuka pintu mobil, namun Luhan menahan lengannya.

“Kau tidak apa-apa?”

Dari sorot mata Luhan, Hyeri tahu kalau pria ini sangat mengkhawatirkannya. Namun ia tidak ingin membuat sahabatnya cemas. Hyeri mengusahakan sedikit senyum, “aku baik-baik saja Luhan,” ia lepaskan tangan Luhan yang masih memegang lengannya, lalu perlahan keluar dari mobil dan pergi meninggalkan Luhan.

Luhan tahu bahwa Hyeri saat ini sedang ingin menyendiri, maka dari itu ia tidak mengikuti Hyeri ke rumahnya. Ia putuskan untuk tetap menunggu Hyeri dari dalam mobilnya untuk berjaga-jaga jika gadis itu membutuhkannya.

Baru selangkah Hyeri memasuki rumahnya dan ketika itu juga kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya. Ia duduk lemas terkulai dibawah lantai. Ia keluarkan ponselnya berniat menghubungi Luhan, namun saat ia menatap background ponselnya yang menampilkan sebuah foto dirinya dan Kris saling sedang merangkul membuat air matanya jatuh tak tertahan lagi.

Luhan membuka pintu rumah Hyeri membuat Hyeri terkejut dengan kehadirannya. Ia berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Hyeri. Ia tarik Hyeri kedalam pelukannya yang masih menangis, ia belai rambutnya perlahan, mencoba memberi ketenangan.

“Kenapa kau menangis?”

Tidak ada jawaban, Hyeri masih terus terisak dalam pelukan Luhan. Luhan membawa Hyeri menuju kamar Hyeri yang terletak dilantai 2. Ia dudukkan Hyeri dipinggir ranjangnya. Luhan berlutut dihadapan Hyeri, menangkup wajahnya.

“Kau tahu, kau terlihat jelek saat menangis. Kris pasti tidak suka jika melihatmu seperti ini” Luhan mencoba membuat Hyeri berhenti menangis. Meskipun usahanya gagal, tapi setidaknya Hyeri bisa tersenyum disela-sela tangisnya.

“Berhenti menangis, atau kufoto wajah jelekmu ini biar Kris lihat” Luhan mengeluarkan ponselnya menakut-nakuti Hyeri. Dan untung kali ini berhasil. Hyeri sudah tidak menangis lagi. Luhan merapihkan rambut Hyeri yang tergerai berantakkan, menghapus sisa-sisa airmatanya.

“Kenapa kau menangis?” Luhan mengulangi pertanyaannya lagi. Hyeri menundukkan kepalanya lalu menggeleng menanggapi pertanyaan Luhan.

“Apa aku perlu menghubunginya sekarang?”

“Tidak!! Biarkan saja. Dia pergi karena ada keperluan. Aku tidak mau mencegahnya. Lagi pula aku masih belum yakin dengan keputusanku. Jangan beri tahu dia tentang semua ini, biar nanti aku yang mengatakannya”

“Masih ada aku yang akan menemanimu, jangan sedih lagi, oke?” Luhan membelai pipi Hyeri lembut. Mereka berdua tersenyum.

“Terima kasih Luhan.”

5 bulan berlalu semenjak kepergian Kris ke Kanada yang seharusnya hanya 1 bulan. Kris menjelaskan alasan ia masih harus menetap disana pada Hyeri dan gadis itu memakluminya. Padahal tinggal beberapa hari lagi menjelang hari ulang tahunnya. Hyeri sempat kecewa karena ia tidak terbiasa merayakan ulang tahunnya tanpa Kris. Namun dengan adanya Eunsae, teman kerjanya dan Luhan sedikit menghilangkan rasa kecewanya.

Hari berganti hari dan tanpa terasa hari ulang tahun Hyeri tinggallah esok. Luhan merencanakan pesta kejutan bersama Eunsae untuk Hyeri. Mulai dari memesan kue hingga tempat diadakannya pesta. Bukan pesta besar, hanya sebuah acara makan-makan bersama, itupun hanya mengundang beberapa teman dekat. Luhan tahu Hyeri tidak menyukai pesta besar.

Sementara Hyeri, ia menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Masalahnya, jika ia melamun sedikit, pikirannya langsung tertuju pada Kris, ia sangat merindukan Kris. Maka dari itu ia dengan giat bekerja. Ia bahkan lupa jika besok adalah hari ulang tahunnya.

“Malam ini kau ada acara tidak?” Eunsae dan Hyeri kini sedang menyantap makan siang mereka disebuah cafe bernuansa pedesaan.

“Aku hanya menemani bosku menghadiri rapat sore ini, lalu tugasku selesai.” Hyeri menjawab dengan mata tertuju pada layar notebooknya.

“Baguslah, temani aku berbelanja malam ini yah. Akan ada diskon besar di mall pusat kota.” Hyeri mengalihkan pandangannya dari notebook miliknya dan menatap Eunsae yang asik menyantap makan siangnya.

“Kau ini hobi sekali berbelanja sih” Hyeri menyeruput minumannya sedikit dan kembali fokus dengan kegiatanya.

Tiba-tiba datang seorang pria menghampiri meja mereka dan langsung duduk lalu meminum habis minuman Hyeri dan dengan santainya pula mengambil makanan Eunsae.

“Haaaa, kenyang”

“Luhan, kau bisa bilang dulu kalau mau ambil makanan sesorang” Eunsae menatap Luhan kesal lalu melahap makanan yang tersisa dipiringnya, takut Luhan memakannya lagi. Hyeri hanya menggeleng melihat tingkah sahabatnya itu.

“Pantas saja kau belum punya kekasih sampai sekarang” ledek Eunsae.

“Kau yang akan jadi kekasihku nanti” balas Luhan.

“Aku? Hah?! Kau bercanda. Aku tidak akan mau jadi kekasihmu”

“Eiyy, hati-hati jika bicara, kau bisa jatuh cinta padaku suatu hari nanti” Luhan terus menggoda Eunsae. Hyeri tahu jika sahabatnya itu memang menyukai Eunsae, tapi ia belum mau mengungkapkannya. Alasannya karena Luhan berjanji pada Kris untuk menjaga Hyeri.

Hyeri yang lelah mendengar pertengkaran antara dua sahabatnya itu tidak kunjung usai memilih meninggalkan mereka berdua. Lagipula jam makan siangnya telah usai dan perkerjaan kembali menantinya.

“Kau mau kemana?” tanya Eunsae yang melihat Hyeri memasukkan notebooknya kedalam tasnya.

“Aku harus kembali bekerja, kalian lanjutkanlah bertengkarnya” Hyeri bergegas pergi.

“Yah, tunggu aku” Eunsae berniat mengejar Hyeri namun lengannya ditarik Luhan memaksanya kembali duduk, “apa lagi?” tanya Eunsae ketus.

“Kau sudah atur bagaimana caranya dia pergi ke tempat itu?”

“Oh iya!! Sudah, nanti malam kami akan berbelanja di mall dekat-dekat situ” Eunsae berkata antusias kemarahannya pada Luhan hilang entah kemana.

Malam yang ditunggu pun tiba, Eunsae dan Hyeri berbelanja bersama menunggu pergantian hari.

“Hyeri-ya, aku lapar temani aku makan ya. Dekat-dekat sini ada cafe yang punya menu sangat enak”

“Ayo, aku juga lapar” Hyeri berjalan mengikuti Eunsae menuju cafe di sebrang mall.

Eunsae membuka pintu cafe tersebut, terdengar bunyi bel saat pintu dibuka dan saat itu juga..

“Happy birthday Hyeri, happy birthday Hyeri, happy birthday Shim Hyeri, happy birthday to you”

Alunan lagu selamat ulang tahun mengisi ruangan di cafe tersebut. Hyeri yang terkejut hanya bisa menutup mulutnya, tidak bisa berkata apa-apa. Luhan membawa sebuah kue ulang tahun ditangannya, berjalan mendekati Hyeri dan Eunsae yang sudah berada disamping Luhan.

“Tiup lilinnya sekarang” ucap Luhan.

“Jangan lupa make a wish dulu” tambah Eunsae.

Hyeri memejamkan matanya, membuat sebuah permintaan. Ia buka kedua matanya dan meniup lilin-lilin tersebut lalu suara tepuk tangan menghiasi telinga Hyeri. Ia tersenyum sangat senang.

“Kau senang?” tanya Eunsae yang duduk di sebelah Hyeri.

“Sangat senang. Bahkan aku lupa kalau hari ini ulang tahunku”

“Makanya kau jangan sibuk kerja terus” ucap Luhan yang kini juga duduk di samping Hyeri.

“Kalian berdua yang merencanakannya?” Hyeri bergantian menatap Eunsae dan Luhan. Mereka berdua mengangguk, “terima kasih.”

“Ayo kita kesana, teman-teman yang lain menunggumu” ajak Eunsae.

“Kau saja duluan, nanti aku menyusul” tolak Hyeri halus.

“Baiklah. Aku kesana dulu ya” Eunsae pun pergi meninggalkan Luhan dan Hyeri.

“Kau senang bukan?” tanya Luhan, pertanyaan yang sama seperti Eunsae. Namun kali ini Hyeri tidak menjawab, hanya tersenyum kecil.

“Rasanya aneh dan kurang lengkap jika tidak ada dia. Apa dia sudah menghubungimu?”

“Belum. Mungkin dia sibuk” Hyeri menundukkan kepalanya. Genangan air mata sudah dipelupuk matanya siap turun kapanpun. Harus ia tersenyum senang, bukan malah ingin menangis. Tanpa bisa ia cegah, airmatanya turun dengan sendiri.

“Hey, kenapa menangis?” Luhan menghapus airmata Hyeri dengan jemarinya. Ia menanggkup wajah Hyeri, menatap matanya dalam.

“Aku…merindukannya Luhan” ujar Hyeri disela tangisnya. Ia tak bisa menghentikan airmatanya yang terus jatuh. Ia sandarkan kepalanya dibahu Luhan.

Luhan mencoba menenangkan Hyeri, ia membelai lembut rambut Hyeri”Awas saja kalau dia kembali nanti, akan kubuat dia menangis sepertimu”

“Yah Luhan!! Kenapa Hyeri menangis? Kau apakan dia?” Eunsae datang menghampiri mereka ketika melihat Hyeri dalam pelukan Luhan dan terisak.

Sebenarnya Eunsae sedikit cemburu melihat kedekatan mereka. Eunsae menyukai Luhan saat pertama kali bertemu, namun melihat Luhan yang selalu saja menempel kemanapun Hyeri pergi dan cara Luhan memperhatikan gadis itu membuat Eunsae enggan mendekati Luhan. Ia berpikiran Luhan dan Hyeri adalah sepasang kekasih, meskipun Hyeri sudah bilang berkali-kali padanya kalau mereka berdua hanya sahabat.

“Hyeri-ya, kau kenapa menangis? Apa Luhan menyakitimu? Hah?”

“Enak saja!! Mana pernah aku menyakitinya!!” balas Luhan yang tidak terima dengan perkataan Eunsae.

“Aku tidak apa-apa, aku hanya terlalu senang sampai ingin menangis. Ayo kita berkumpul bersama yang lain” Hyeri menarik Eunsae dan Luhan menuju kumpulan teman-temannya.

Dan malam itu Hyeri habiskan waktunya untuk bersenang-senang. Toh pesta ini diadakan untuknya. Dan untuk saat ini Hyeri ingin melupakan pria itu untuk sesaat.

Siang hari itu, Hyeri berjalan menyusuri taman tempat biasa ia bermain sewaktu kecil. Duduk diayunan seorang diri, mengenang masa kecilnya kembali. Karena ini hari libur, jadi banyak anak kecil yang bermain di taman ini. Ia melihat seorang gadis kecil dan dua teman lelakinya sedang bermain di taman berpasir membangun sebuah istana pasir. Ia teringat akan masa lalunya, saat ia Luhan serta Kris bermain bersama.

“Kau disini” suara Luhan mengejutkan Hyeri.

“Kau selalu saja mengejutkanku” Hyeri melirik Luhan sekilas lalu kembali fokus pada 3 anak kecil tadi.

“Mereka seperti kita dulu ya” ujar Luhan. Hyeri menatap Luhan yang kini melihat ke 3 anak kecil yang sedari tadi Hyeri perhatikan lalu ia tersenyum.

“Ya” jawab Hyeri singkat.

“Apa dia sudah menghubungimu?” tanya Luhan. Hyeri tahu siapa yang Luhan maksud, ia hanya menggelengkan kepalanya.

“Wah, benar-benar orang itu. Lihat saja kalau dia pulang nanti”

“Biarkan saja. Mungkin dia lupa” ucap Hyeri lemah.

Kris belum menghubungi Hyeri semenjak 3 hari yang lalu, bahkan ia tidak mengirimnya pesan sama sekali tidak mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Hyeri kecewa, sangat kecewa. Satu-satunya orang yang dia harapkan ada disaat terpentingnya tidak disisinya.

Luhan menarik tangan Hyeri hingga ia bangun dari ayunan, “ayo kita jalan-jalan. Hari kau boleh meminta apapun dariku sebagai hadiah ulang tahunmu”

Siang itu Luhan dan Hyeri menghabiskan waktu liburan dengan jalan-jalan disekitar taman dan bermain sepeda. Ia tidak ingin melihat wajah Hyeri kembali sedih, maka sebisanya ia buat Hyeri lupa akan Kris.

“Malam ini kau tidak ada acara kan? Temani aku ketempat biasa yah. Akan ada live perform nanti malam” ajak Luhan ketika mereka sedang duduk di pinggir taman. Hyeri mengangguk menerima ajakan Luhan, “nanti malam aku jemput jam 7. Kau harus berdandan yang cantik, oke?” Hyeri tertawa menanggapi perkataan Luhan.

Malam harinya, jam 7 tepat Luhan menjemput Hyeri. Dan benar saja Hyeri sangat cantik dimata Luhan malam ini. Selama diperjalanan, mereka berdua berbincang santai sesekali diselingi tawa Hyeri dan Luhan. Luhan melirik Hyeri sekilas ketika Hyeri tertawa mendengar ceritanya, inilah yang diinginkan Luhan, kembalinya Hyeri yang ceria seperti dulu. Dan mulai malam ini, Luhan tidak akan melihat Hyeri bersedih lagi.

Sesampainya dicafe tersebut, Luhan langsung menuju tempat duduk favoritnya bersama Hyeri. Seorang pelayan menghapiri meja mereka dan memberikan buku menu pada Luhan dan Hyeri.

“Hanya berdua saja? Kemana yang satu lagi?” tanya sang pelayan.

“Mungkin dia sedang berenang dilautan” sahut Luhan tak acuh sambil membalik buku menu ditangannya, “jam berapa kau tampil Lay?”

“Mungkin 30 menit lagi. Sudah tentukan pesanan?” pria yang dipanggil Lay itu mengeluarkan buku pesanan dan mulai mencatat apa yang Luhan dan Hyeri pesan, “pesanan kalian akan sampai 10 menit lagi. Selamat menunggu.”

Tidak sampai 10 menit pesanan mereka berdua datang. Luhan dan Hyeri menikmati hidangan mereka dengan alunan permainan piano menghiasi seluruh ruangan. Saat sedang asik mengobrol dengan Hyeri, Luhan pergi sebentar ke toilet, tinggalah Hyeri duduk menyendiri.

Lay, teman Luhan yang bekerja disini sebagai pelayan dan sering mengisi live perform ditempat ini naik ke atas panggung. Duduk dibelakang grand piano putih.

“Malam ini aku akan memberikan penampilan spesial untuk seorang gadis yang berulang tahun hari ini. Dia sahabat dari temanku. Happy Birthday Shim Hyeri” tunjuk Lay pada seorang gadis yang duduk seorang diri.

Hyeri yang mendengar namanya disebut oleh Lay langsung tersipu malu. Semua mata pengunjung tertuju pada Hyeri yang duduk seorang diri.

Alunan suara piano yang lembut yang dimainkan Lay memanjakan telinga pengunjung. Hyeri memejamkan matanya meresapi setiap nada yang Lay ciptakan.

Listen babe,
I’ll dedicate this song for you.

Suara Lay di awal lagu membuat mata Hyeri terbuka dan betapa kagetnya ia saat mendapati Luhan juga berdiri diatas panggung bersebelahan dengan Lay

A really happy you, who is next to me
I waited for today, your birthday

Your smile that looks at me oh
It’s really, really bright
I want to pick those stars for you

Happy birthday to you
My beautiful love
Baby, only for you
Because you’re here, I’m happy
Happy birthday to you
Just like today, forever
Baby, only for you
We’re going to be together

Hyeri tersirih dengan suara Luhan, baru pertama kalinya Hyeri mendengar Luhan bernyanyi seperti ini. Dan suara Lay, pria manis berlesung pipi itu sangat lembut, sesuai dengan dentingan piano yang ia mainkan. Saat lampu sorot tak lagi menyorot Luhan, suara yang tak asing bagi Hyeri terdengar mengalunkan rap lembut. Suara yang sangat Hyeri rindukan selama 5 bulan ini. Suara yang hanya bisa Hyeri dengar ditelepon.

From when I open my eyes till I close them,
I only think of you for the whole day
It’s lonely, a night without you
You, who is like the sunshine that shines through the window
You wake me up and make me smile, you’re special, a bit different

Hyeri bangun dari duduknya, tapi ia tetap diam ditempat. Sebagian hatinya menahan dirinya untuk tidak berlari menghampiri Kris yang kini berdiri tidak jauh darinya. Hyeri menutup mulutnya, menahan agar ia tidak berteriak. Kris tersenyum pada Hyeri disela-sela rapnya. Lalu menatap Luhan yang juga tersenyum pada Kris.

You, who is more important than anything else in the world
Will you accept my heart that I prepared for you

Your smile that looks at me oh
It’s really, really bright
I want to pick those stars for you

Happy birthday to you
My beautiful love
Baby, only for you
Because you’re here, I’m happy
Happy birthday to you
Just like today, forever
Baby, only for you
We’re going to be together

Lovey-dovey, sometimes we argue
I think all night about what I should do to the sulking you
Do you know how my heart tightens
because you might hate me?
To me, there’s no one else but you. You’re the only one that makes me smile

I can see that you’re different even among a group of many people
Your shining eyes, lips
My heart feels at peace when you’re next to me

I thank God for bringing the beautiful you down here
Please stay like this forever, inside me
I will kiss you baby
Happy birthday

Happy birthday to you
My beautiful love
Baby, only for you
Because you’re here, I’m happy
Happy birthday to you
Just like today, forever
Baby, only for you
We’re going to be together

Ketiga pria diatas panggung itu menyihir semua pengunjung dengan suara mereka. Alunan piano sempuran dari Lay, suara Luhan yang nyaris tanpa cela, dan rap Kris dengan suara beratnya yang khas.

Suara tepuk tangan riuh menghiasi seisi cafe, ketiga pria itu membungkuk sedikit memberi salam dan mengucapkan terima kasih. Hyeri masih mematung tak bergerak, tidak percaya dengan yang ada dihadapannya saat ini. Kris dan Luhan perlahan berjalan menuju Hyeri. Luhan langsung duduk ketika ia sampai dimejanya, namun Kris, ia masi berdiri menatap Hyeri yang tengah menatapnya juga.

“Hai” sapa Kris namun tak Hyeri hiraukan. Hyeri terus saja menatap Kris membuat Kris bingung dan canggung. Sedangkan Luhan, dia asik melihat tingkah sabahatnya yang seperti itu dan malah menertawakan Kris.

“Maaf aku tidak bisa menghubungimu seharian ini. Ponselku tertinggal dirumah karena terburu-buru mengejar penerbangan hari ini. Oh iya, Happy Birthday” Kris menjulurkan tangannya tapi tetap Hyeri hiraukan.

“Ah, aku lupa aku harus membayar bill tagihan. Kalian berdua silahkan mengobrol dulu” Luhan bergegas pergi meninggalkan Hyeri dan Kris. Dalam hati Kris memaki Luhan yang tiba-tiba pergi meninggalkannya dengan Hyeri dalam keadaan seperti ini.

Kris mengalihkan pandangannya dari Hyeri, ia tahu pasti gadis itu marah besar padanya tapi ini semua juga karena ia ingin tepat waktu sampai disini.

“Kau tahu, kau adalah satu-satunya orang yang paling kuharapkan pertama kali mengucapkannya untukku” Kris menoleh kearah Hyeri, “aku merindukanmu Kris” lanjut Hyeri.

Kris menatap Hyeri yang kini tertunduk menahan tangis. Ia perlahan menghanpiri gadis itu, memegang kedua bahunya, menarik kedalam pelukkannya. Dan saat itu juga tangis Hyeri pecah. Kris membelai lembut puncak kepala Hyeri.

“Aku juga merindukanmu….sangat merindukanmu” ujar Kris yang kini mempererat pelukkannya dan tidak ingin gadis ini pergi dari sisi nya. Ia tidak peduli dengan tatapan dari para pengunjung yang melihat mereka.

Waktu menunjukkan pukul 11.30 malam, para pengunjung sudah pulang semua kecuali 3 orang yang masih asik mengobrol. Luhan Kris dan Hyeri, ketiga kembali berkumpul bersama dan menikmati waktu mereka saat ini.

“Maaf teman-teman, tapi cafe kami akan segera tutup” ujar Lay menghampiri meja mereka.

Luhan, Hyeri dan Kris mengedarkan pandangan mereka kesekeliling. Tidak ada lagi pengunjung selain mereka bertiga.

“Kemana para pengunjung yang lain?” tanya Luhan.

“Mereka semua sudah pulang, tinggal kalian bertiga saja dan ini sudah pukul 11.30 waktunya kami untuk beres-beres. Kalian bisa lanjutkan obrolan kalian besok disini” Lay berkata sesopan mungkin.

“Baiklah, ayo kita pulang” Luhan berdiri diikuti Hyeri dan Kris, “ah maaf Hyeri aku tidak bisa mengantarmu pulang. Aku janji akan menginap dirumah Lay hari ini” ujar Luhan tiba-tiba.

“Apa? Hey aku ti…aw!!” Luhan buru-buru menginjak kaki Lay dan merangkul nya.

“Ayolah, kau sudah janji padaku mau menunjukkan lagu baru” Lay menatap aneh Luhan, seingatnya dia tidak pernah berjanji pada Luhan.

Namun Luhan menatapnya dengan tatapan ikuti-saja-perkataanku. Lalu Lay menatap Hyeri dan Kris bergantian. Ia mengerti maksud Luhan, “oh iya aku lupa janji itu.”

“Kris, kau tolong antar Hyeri pulang ya” ujar Luhan.

“Oh begitu, ya sudah. Oh iya Lay, terima kasih untuk lagu tadi sangat bagus, aku sangat menyukainya.”

“Itu hadiah untukmu” balas Lay sambil tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.

“Akan aku ingat sampai kapanmu. Sampai bertemu lagi Lay” ujar Hyeri.

Kris dan Hyeri berjalan bersebelahan ditemani ramainya tengah kota. Mereka berdua terlihat canggung satu sama lain, padahal didalam cafe tadi mereka berdua biasa-biasa saja. Mungkin karena ketidakhadiran Luhan diantara mereka berdua membuat suasana menjadi seperti ini. Tidak ada yang berbicara, Kris dan Hyeri sama-sama diam hingga sampai di halte bis.

“Kau akan balik lagi ke Kanada?” tanya Hyeri membuka pembicaraan terlebih dulu.

“Kalau papa membutuhkanku lagi, aku akan kembali kesana. Untuk sekarang ini aku akan menetap disini lagi. Kau mau aku pergi lagi?”

“Tidak!!” kata itu langsung keluar dari mulut Hyeri dengan jelas.

“Sepertinya ada yang tidak bisa kehilanganku” Kris menyenggol bahu Hyeri dengan lengannya. Gadis itu melihat kearah lain menyembunyikan wajahnya yang memerah.

“Kau tahu, selama kau tidak ada Luhan selalu menjagaku jadi kalau kamu pergi lagi masih ada Luhan disampingku” Hyeri tidak tahu kalau perkataannya membuat Kris sedikit kecewa.

“Begitukah? Aku sudah menduga sebelumnya kau akan berkata seperti itu. Sekarang aku sudah tahu jawabannya” ujar Kris.

Hyeri bingung dengan perkataan Kris, “maksudmu jawaban apa?”

“Saat hari ulang tahunku” Kris mengingatkan Hyeri saat ia meminta Hyeri menjadi hadiahnya. Hyeri ingat, namun ia pikir Kris lupa akan hal itu.

“Kau mau jadi hadiahku?” Hyeri mengulangi pertanyaan Kris waktu itu. Bukan pertanyaan tapi permintaan.

“Iya pertanyaan yang itu”

“Aku bukan bertanya. Aku meminta hadiahku. Kau mau kan jadi hadiahku?” Hyeri menadahkan tangannya pada Kris.

Kris belum bisa mencerna kata-kata Hyeri, terlalu rumit baginya dan juga cepat, “apa maksudmu?”

“Kriiiisss, aku minta hadiahku. Kau mau tidak menjadi hadiahku?” ujar Hyeri sedikit kesal. Kris masih diam dan itu membuat Hyeri tambah kesal padanya, “kalau tidak mau tidak ap…”

Seketika itu juga Kris menarik tubuh Hyeri kedalam pelukannya, “iya aku mau” ucap Kris. Hyeri tersenyum senang dalam pelukan Kris, ia lingkarkan lengannya dipinggang Kris memeluk balik pria itu.

Kris melonggarkan sedikit pelukannya agar ia bisa menatap Hyeri, “so can I call you mine?”

“I’m yours Kris” balas Hyeri, kemudia mereka berdua saling berpelukan kembali.

“Kris kau tahu, kita ini sedang dihalte bis. Orang-orang sedang memandang kita” Hyeri berusaha melepaskan pelukan Kris namun tidak berhasil.

“Biar saja, toh mereka semua tidak mengenal kita” Kris malah mempererat pelukannya.

“Tapi aku malu Kris!! Cepat lepaskan!!” pinta Hyeri, ia masih berusaha melepaskan diri dan akhirnya Kris melonggarkan pelukannya, memberi jarak antara mereka berdua.

“Kau malu? Aku juga malu, kalau begitu sekalian saja.”

“Apa maksudmu?”

“Maksudku seperti ini…”

Kris merengkuh leher Hyeri dengan tangannya dan dengan cepat mendaratkan sebuah ciuman manis dibibir mungil Hyeri. Sontak Hyeri terkejut dengan yang Kris lakukan, namun Hyeri tidak melawan. Ia justru tersenyum dalam ciumannya.

Dan saat itu juga, lonceng berbunyi menandakan pergantian hari.

*The End*

Note:
Maaf yaa kalo ff nya jelek dan ga jelas banya typo disana sini .. Ini tadinya mau pake lagunya Call You Mine yang Kris bawain sama Lay di ShimShimTapa tapi saya lagi suka lagu nya BAP yang Happy Birthday :D

Call You Mine (part 1)

“Luhan, Kris!! Cepat kesini” sahut seorang gadis kecil memanggil kedua temannya. Kris dan Luhan menghampiri gadis kecil itu yang sedang duduk di bawah ayunan kayu di tengah taman bermain.

“Kau mau aku ayunkan?” Kris berdiri dibelakang gadis itu seraya memegang tali ayunan tersebut. Gadis kecil itu menganggung senang dan Kris pun mulai mendorong pelan ayunan itu yang semakin lama semakin cepat dan tinggi.

“Yah Kris jangan terlalu tinggi” Luhan yang duduk di ayunan sebelahnya memperingatkan Kris.

“Tidak apa-apa. Aku suka seperti ini” ucap sang gadis tersenyum. Angin menerpa wajahnya, membuat rambut panjangnya yang tergerai berantakkan.

Perlahan lajunya ayunan mulai melambat dan berhenti. Gadis kecil itu turun dari ayunan lalu menghampiri Luhan dan Kris yang berteduh dibawah pohon.

“Kalian berdua sedang apa?” Tanya si gadis kecil itu ketika melihat Luhan dan Kris yang berkutat dengan batang pohon. Luhan menatap Kris dan gadis itu bergantian. Kris juga menatap gadis itu sesaat sebelum kembali berkutat dengan batang pohonnya.

“Bukan apa-apa” sahut Luhan seraya berdiri. “Lihat rambutmu jadi berantakan seperti ini” Luhan merapihkan rambut gadis itu dengan menyisirnya menggunakan jari-jari tangan nya.

“Selesai!!” ujar Kris seraya berdiri dan menatap Luhan.

“Apa nya yang selesai?” Tanya sang gadis penasaran.

“Lihatlah” Luhan merangkul gadis kecil itu dan menuntunnya melihat apa yang dikerjakan Kris dan dia tadi.

Gadis kecil itu tersenyum senang melihat ukiran nama mereka masing-masing tertera di batang pohon tersebut dengan bingkai berbentuk hati.

“Kris, Hyeri, Luhan” ujar gadis itu senang.
Kris berdiri disamping Hyeri dan merangkulnya. Hyeri menatap Luhan dan Kris bergantian lalu balas merangkul mereka berdua. “Selamanya kita akan seperti ini” ujar Hyeri.

15 tahun kemudian …

Kris, Hyeri, dan Luhan tumbuh bersama dan persahabatan diantara mereka semakin kuat. Kris dan Luhan tumbuh menjadi pria tampan. Banyak gadis-gadis yang mengantri ingin menjadi kekasih mereka tapi mereka tidak menanggapinya. Dan Hyeri, dia tumbuh menjadi gadis manis. Banyak juga pria yang tertarik dengan Hyeri, namun mereka akan mundur saat 2 pengawal Hyeri memandang mereka dengan tatapan mengintimidasi.

Seperti hari ini, Hyeri mendapat ajakan kencan dengan salah satu teman lamanya. Kris tetap memaksa untuk ikut serta dengan alasan jika pria itu berbuat yang tidak-tidak padanya Kris bisa melindunginya. Hyeri tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan Kris membuntuti mereka. Saat Hyeri dan temannya itu menikmati makan malam bersama disebuah cafe, Hyeri merasa bosan dengan suasana yang terlihat kaku. Kris memandang kearah meja Hyeri dan melihat Hyeri gelisah membuat ia tak tahan untuk tertawa. Hyeri balik menatap Kris dengan tatapan tolong-keluarkan-aku-dari-sini.

Kris segera berjalan menghampiri meja Hyeri, “maaf tapi waktu kalian sudah habis. Sudah waktunya untuk gadisku pulang ke rumah” ujar Kris lalu membantu Hyeri berdiri.

“Oh iya, maafkan aku. Aku tidak bisa lama-lama menemanimu makan malam. Senang bisa berkencan denganmu hari ini” ucap Hyeri lalu segera pergi dengan Kris.

Kris dan Hyeri tidak langsung pulang. Mereka berdua berjalan menyusuri gemerlapnya kota malam hari. Hyeri tak henti-hentinya tertawa dengan apa yang Kris lakukan saat di cafe tersebut.

“Bagaimana kau bisa membawaku keluar seperti itu? Aku harus meminta maaf padanya nanti” ujar Hyeri disela tawanya.

“Lalu kau mau aku mengembalikanmu kesana?” Kris tak mau kalah dengan Hyeri.

“Tidak tidak!!” Hyeri menggelengkan kepalanya cepat. “Aku bosan setengah mati dengan situasi seperti itu” tambah Hyeri.

“Bagaimana jadinya kalau aku tidak ikut denganmu hari ini?” Ledek Kris.

“Haaaa, mungkin aku akan kabur diam-diam. Tapi untungnya kau ada disana tadi” ucap Hyeri lalu merangkul lengan Kris dan menyenderkan kepalanya.

Hyeri tidak tahu kalau yang ia lakukan berdampak besar untuk Kris. Pria disebelah Hyeri ini setengah mati mengatur nafas dan irama jantungnya agar tak terdengar Hyeri. Kris memandang Hyeri yang tengah menyandarkan kepalanya dilengan Kris. Kris tahu Hyeri sering bertingkah manja padanya ataupun Luhan. Sewaktu dulu, Kris memang sangat senang jika Hyeri bersikap manja padanya. Tapi entah sejak kapan, Kris merasakan sesuatu yang berbeda terhadap Hyeri. Saat Hyeri tersenyum, tertawa, dan bersikap manja padanya membuat ia merasa tegang dan irama jantungnya jadi tak beraturan. Saat melihat Hyeri dengan Luhan pun Kris merasa tidak senang. Padahal dulu jika Kris tidak sanggup dengan sikap manja Hyeri, ia akan meminta bantuan Luhan. Sudah lama Kris ingin mengutarakan perasaannya pada Hyeri, tapi ia tahu Hyeri hanya mengganggapnya sebagai sahabat sekaligus kakak. Dan kenyataan itulah yang enggan membuat Kris mengungkapkan nya. Ia takut Hyeri akan menjauh darinya jika ia mengatakannya. Dan Kris tidak bisa jauh dari Hyeri mulai saat itu.

“Kenapa mereka belum pulang juga? Sudah larut malam seperti ini” aku menunggu kepulangan Hyeri dan Kris di depan rumah Hyeri. Meskipun orang tua Hyeri sudah menyuruhku untuk menunggu di dalam, tetap saja aku tidak tenang sekarang. Masalahnya Hyeri dan Kris tidak pernah pulang selarut ini. Aku khawatir terjadi sesuatu dengan mereka berdua. Tidak lama, sebuah mobil yang sangat kukenali menuju kesini, “itu dia.”

Kulihat Hyeri menatap kearahku dan dari bibirnya sepertinya dia memanggil namaku. Mobil Kris berhenti tepat di depanku dan Hyeri yang pertama keluar.

“Hai Luhan!!” Sapa Hyeri seperti biasa. Kris keluar dari mobil dan menyapaku juga, “oh, kau disini?”

“Kenapa kalian pulang larut malam?”

Hyeri menghampiriku dan merangkul lenganku, “tadi aku dan Kris jalan-jalan sebentar” ujar Hyeri masih merangkul lenganku. Kulihat Kris dan sepertinya ada yang aneh dengannya..

“Lain kali kau harus memberitahuku kalau mau pulang malam” ujarku memperingatkan Hyeri.

“Siap!!” Balas Hyeri sambil memberi tanda hormat dan tersenyum.

“Hyeri sudah dewasa. Dia berhak main kemanapun dia suka” ucap Kris yang sekarang sudah berdiri disamping Hyeri. “Lagipula kan ada aku yang menemaninya” tambah Kris.

Dari nada suaranya ada yang berbeda dengannya dan sudah beberapa hari yang lalu dia mulai bersikap aneh jika Hyeri sedang bersamaku.

“Iya Luhan, ada Kris yang menemaniku. Kau tidak perlu khawatir” Hyeri membenarkan perkataan Kris. “Sekarang kita masuk dulu kedalam” tambah Hyeri dan dia menyeretku dan juga Kris menuju pintu rumah.

“Sudah larut malam, sebaiknya kamu istirahat saja. Aku dan Kris harus pulang” kumelepaskan tangan Hyeri dari lenganku dan Hyeri melepaskan tangan nya dari lengan Kris. “Ya sudah” balas Hyeri.

“Kau harus langsung tidur. Mengerti?” Perintahku pada Hyeri dan Hyeri hanya mengangguk menanggapinya, “cepat masuk dan sampaikan pamitku pada ibumu” ucapku lalu mengusap puncak kepala Hyeri.

“Yah, aku bukan anak kecil lagi!!” Hyeri sedikit kesal dengan perlakuanku. Tapi itulah yang membuatku senang, melihat ekspresi marahnya yang menggemaskan.

“Cepat masuk sana” perintahku sekali lagi.

Hyeri berjalan menuju pintu rumahnya dan sebelum Hyeri masuk, dia berbalik dan melambaikan tangannya kearahku dan Kris. Aku balas melambaikan tanganku tapi Kris tetap diam dan Hyeri masuk kedalam. Kris langsung berjalan meninggalkanku menuju mobil nya. ‘Ada apa dengan anak ini?’ Batinku.

Didalam mobil aku dan Kris saling diam, tidak seperti biasanya. Awalnya kupikir dia memang tidak mood untuk bicara, tapi akhir-akhir ini dia sering mendiamiku tanpa sebab. Tapi salah satu alasan Kris mendiamiku pasti karena Hyeri. Belakangan ini aku sering memergoki Kris yang diam-diam memperhatikanku dan Hyeri kalau kami sedang bersama dan setelah itu, sikapnya seperti ini.

“Kris, kenapa belakangan ini kau sering diam?” Tanyaku langsung, aku tidak mau jika ini terus berlanjut. Hanya merusak persahabatan saja.

“Hah? Tidak. Aku biasa saja” sahut Kris sekenanya lalu kembali menatap jalan.

“Hentikan mobilmu dulu. Kita perlu bicara”

“Ini sudah malam, lagipula aku lelah. Besok saja bicaranya” elak Kris tak mau mendengarkanku.

“Kau menyukai Hyeri?” Dia langsung menoleh kearahku tapi tidak berkata apapun dan langsung kembali menatap jalan. Tapi dari tingkahnya sepertinya tebakanku benar.

“Kau marah kalau aku dekat dengan Hyeri?” Tanyaku lagi untuk memastikan. Kini ekspresi Kris seperti seseorang yang sedang diintrogasi polisi, sangat lucu dengan wajah gugupnya. Dan Kris akhirnya menghentikan mobil dipinggir jalan.

“Kau benar menyukainya?” Tanyaku sekali lagi.

“Apa tidak boleh? Aku tahu kita bertiga sudah bersahabat sejak kecil. Aku juga tidak bisa menghapus perasaanku begitu saja. Kau tahu, hal ini membuatku gila” ujar Kris mekuapkan perasaannya.

“Hei, itu hal yang wajar. Lalu kenapa kau marah kalau aku dekat dengan Hyeri?”

“Aku cemburu Luhan. Melihat kau dekat dengan Hyeri seperti tadi saja membuatku ingin melemparmu jauh-jauh dari Hyeri” ucap Kris yang sepertinya jujur. “Apa kau tidak punya perasaan khusus pada Hyeri?”

“Aku menyukainya”

“Aku menyukainya”

Kata-kata itu dengan tegas diucapkan Luhan tepat didepan wajahku. Aku terdiam beberapa saat, lalu kualihkan pandanganku dari Luhan. Apa aku harus bersaing dengan Luhan? Atau aku harus mengalah? Sejak kapan Luhan menyukai Hyeri? Kalau dilihat dari cara Luhan memberi perhatian kepada Hyeri, memang wajar jika Luhan punya perasaan khusus terhadapnya.

“Yah Kris kau pasti berpikiran panjang!!” Ucapan Luhan membuyarkan pikiranku. “Aku menyukai Hyeri sebagai adik. Kau tahu kan aku ingin sekali mempunyai seorang adik.”

“Benarkah? Kau hanya menganggap Hyeri sebagai adik?”

“Iya Kris. Lagi pula Hyeri juga bilang padaku dia hanya menganggapku sebagai kakak” ujar Luhan mencoba meyakinkanku.

“Jadi aku boleh menyukai Hyeri?” Aku meminta ijin pada Luhan.

“Apa aku bisa melarangmu untuk menyukai dia?” Luhan malah balik bertanya dan aku hanya bisa tertawa kecil.

“Jadi kau akan mendukungku?” Tanyaku sekali lagi.

“Jika persahabatan kita tetap terjaga, bagiku tidak masalah” ucapan Luhan membuatku sedikit tenang. Dan akhirnya aku kembali mengemudi mengantarkan Luhan ke rumahnya.

Beberapa hari berlalu namun aku masih belum menyatakannya pada Hyeri. Aku harus mencari situasi yang pas agar Hyeri tidak terkejut. Tapi selama beberapa hari itu juga, melihat kedekatan Luhan dan Hyeri membuatku semakin kesal dan cemburu. Kadang jika Luhan sedang kesal padaku, dengan sengaja dia mendekati Hyeri dan menggandeng tangannya lalu tertawa bersama. Saat itu juga rasanya aku ingin menendang kakinya sampai ia tidak bisa tertawa lagi.

Hari yang kutunggu pun tiba, dimana aku bisa menyatakan perasaanku pada Hyeri. Hari ini bertepatan dengan hari ulang tahunku dan biasa nya Hyeri akan memberikan apa saja yang aku inginkan. Aku, Hyeri dan Luhan berkumpul bersama disebuah cafe tempat kita biasa berkumpul. Aku sudah memberi tahu Luhan kalau hari ini aku akan mengungkapkan perasaanku pada Hyeri dan aku meminta Luhan untuk pergi sementara waktu.

Saat kita bertiga sedang asik mengobrol, ponsel Luhan berdering dan dia ijin untuk mengangkat telepon nya, “Sebentar ya aku angkat telepon dulu” aku dan Hyeri mengangguk menanggapinya.

‘Baiklah, ini kesempatanku’ batinku.
“Hyeri-ya, kau belum memberiku hadiah ulang tahunku?”

“Kris, kau sudah dewasa. Masa masih mau meminta hadiah dariku?” Balas Hyeri sambil tertawa kecil.

“Apa tidak boleh? Tahun kemarin kau juga masih memberiku hadiah”

“Iya iya, kau mau apa? Nanti kubelikan” jawab Hyeri santai sambil bertopang dagu menatapku.

“Aku mau …”

Kutatap mata Hyeri dalam-dalam, Hyeri menjadi sedikit canggung melihatku, “kenapa kau menatapku seperti itu?” Ucap Hyeri sembari mengusap tengguk lehernya. “Kau mau apa? Cepat katakan” tambah Hyeri lalu mengalihkan pandangannya dariku.

Kuraih tangan Hyeri yang tergeletak bebas di atas meja, mengusap jemarinya perlahan. Hyeri melihat tangannya yang kupegang dan menatapku.

“Aku mau kau menjadi hadiahku” kuberanikan diri menyatakan perasaanku.

Hyeri terlihat bingung dengan apa yang aku ucapkan, “maksudnya?”

“Aku menyukaimu” kuucapkan dua kata itu dengan latang. Hyeri terdiam mendengar ucapanku, sangat terlihat jelas diwajahnya kalau dia terkejut tapi beberapa saat kemudian dia tertawa kecil, “Kenapa kau tertawa? Ada yang lucu dengan ucapanku?”

“Aku juga menyukaimu Kris” balas Hyeri lalu sebuah senyum terpampang diwajahnya. “Aku juga menyukai Luhan. Kalian berdua adalah kakak terbaik untukku” lanjut Hyeri.

Senyum yang tadinya merekah diwajahku mendengar Hyeri juga menyukaiku kini layu. Hyeri hanya menganggapku seorang kakak untuknya. Tapi aku tidak mudah menyerah, kucoba untuk meyakinkan Hyeri lagi tentang perasaanku padanya. “Tidak, bukan itu yang aku maksud. Aku menyukaimu sebagai seorang pria yang mempunyai perasaan pada gadis yang ia cintai. Dan gadis itu adalah kamu, Hyeri.”

“Aku tahu, kita bertiga sudah bersahabat sejak lama dan kita pun tumbuh dewasa bersama. Aku juga tidak tahu sejak kapan aku mulai menyukaimu. Setiap hari melihatmu dan bersamamu, rasa ini mulai tumbuh perlahan. Dan sekarang makin besar yang aku rasakan.”

Hyeri hanya diam mendengarkan, tidak sedikit pun menanggapi ucapanku. Kulepaskan tangannya dari genggamanku. Sepertinya Hyeri tidak mempunyai perasaan yang sama denganku.

“Kau serius dengan yang kau ucapkan?” Hyeri menatapku. Tatapan yang berbeda selama aku mengenalnya.

“Apa aku terlihat seperti sedang berbohong?”

Tidak ada yang bicara lagi setelahnya sampai Luhan kembali, mendadak Hyeri meminta Luhan mengantarnya pulang, “Luhan, tolong antarkan aku pulang sekarang” Hyeri segera berdiri dari kursinya dan menyambar tas yang tergeletak di kursi kosong sebelahnya. Dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia meninggalkanku dan Luhan.

“Ada apa dengannya?” Tanya Luhan penasaran. “Apa kau sudah memberitahu dia tentang perasaanmu?”

“Sebaiknya kau antar dia pulang dulu” tanpa bicara lagi Luhan langsung keluar menyusul Hyeri.

Kusandarkan kepalaku di kedua tanganku, menyesali apa yang aku katakan tadi. Pastinya setelah hari ini Hyeri akan menatapku berbeda.

Kurebahkan tubuhku dikasur, menutup mataku dengan lenganku. Ucapan Kris barusan membuat otakku tidak bisa berfikir. Untung nya selama diperjalanan pulang Luhan sama sekali tidak mengajakku bicara. Aku tidak habis fikir bagaimana Kris bisa menyukaiku. Kita bertiga sudah bersahabat sejak kecil, kemanapun bersama. Bayangan saat Kris menyatakan perasaan nya kembali mengisi otak Hyeri. Tidak ada sedikitpun kebohongan dimata Kris tadi, dia serius mengatakannya. Tapi aku tidak bisa menerima nya, bagaimana dengan persahabatan kami nanti? Bagaimana dengan Luhan?

Lamunanku buyar dengan suara dering ponselku, tertulis nama Kris di layarnya. Kupandangin ponselku yang masih terus berdering. Bingung, harus ku jawab atau tidak sampai akhirnya dering ponselku berhenti. Kuraih ponselku yang tergeletak di sebelahku, memandang layar ponselku dengan background foto Kris, aku dan Luhan yang saling berpelukan satu sama lain. Perlahan otakku mulai dipenuhi dengan kenanganku dan Kris. Saat aku sedang sedih, Kris meminjamkan bahunya untuk tempatku menangis kemudian menghiburku dengan tingkah lucunya yang membuatku tidak bisa menahan tawa. Kris selalu ada disampingku dalam keadaan apapun, dan ada Luhan juga di sampingku. Tapi satu yang kusadari, perlakuan Kris dan Luhan perlahan mulai berbeda. Luhan yang memang memperlakukanku layaknya seorang adik dan Kris yang memperlakukanku layaknya seorang gadis biasa dan harus ku akui sempat beberapa kali jantungku berdebar lebih cepat dengan perlakuan Kris. Saat Kris memelukku dari belakang secara tiba-tiba, menggenggam tanganku, menyentuh pipiku dan mengusap puncak kepalaku serta senyum yang ia tampilkan kadang membuatku ingin menjauh darinya agar ia tidak bisa mendengar debar jantungku dan melihat rona dipipiku. Terakhir kali saat acara kencang dengan teman lamaku, saat ia membawaku keluar dari situasi membosankan itu, dia memanggilku dengan sebutan ‘gadisku’ membuatku terdiam beberapa saat agar otakku bisa mencernanya.

Dering ponselku sekali lagi berbunyi, nama Kris yang tertera dilayarnya. Kuputuskan untuk menjawab panggilannya. Diam, tidak ada yang saling bicara selama beberapa detik.

“Kau sudah sampai?” Ujar Kris disebrang sana membuka pembicaraan.

“Hmmm” hanya kata itu yang keluar dari mulutku, lalu keadaan hening kembali.

“Kau tidak perlu memikirkan kata-kataku tadi. Anggap saja aku tidak pernah mengatakannya. Aku tidak ingin merusak persahabatan kita”

“Bodoh, mana mungkin aku tidak memikirkannya. Setidaknya beri aku waktu untuk berfikir”

Aku dan Kris saling diam lagi, sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Baiklah. Tapi kau tidak marah kan? Kita masih tetap bersahabat?” Tanya Kris. Dari suaranya terdengar ia sangat khawatir.

“Apa hanya karena hal seperti ini akan merusak persahabatan kita?” Ujarku sambil tersenyum meskipun dia tidak bisa melihatnya.

“Hmmm, kau benar. Sudah malam, sebaikanya kau cepat tidur”

“Ya, kau juga. Oh ya, Kris, selamat ulang tahun. Maaf aku belum memberimu hadiah” dia tertawa kecil mendengarnya, “tidak apa, lain kali kau bisa memberikannya” dan setelah itu aku mengakhiri pembicaraan.

Aku mengeluarkan sebuah syal dari tasku. Syal yang kurajut sendiri, hadiah untuk Kris sebenarnya. Tapi aku belum sempat memberikannya karena kejadian tadi. Kupandangi syal buatanku sendiri, tersenyum sendiri mengingat bagaimana aku berusaha keras membuatnya dengan bantuan ibuku yang mengajariku dengan susah payah.

‘Apa aku juga menyukainya?’ Batinku, karena sebelumnya aku tidak pernah melakukan hal ini pada siapapun termasuk Luhan. Kuputuskan untuk menyimpan syal itu dilemariku dan kembali kurebahkan tubuhku diatas kasur. Membiarkan tubuh dan otakku beristirahat sampai akhirnya alam mimpi menarikku kedunianya.

2 hari berlalu semenjak Kris menyatakan perasaannya padaku. Selama 2 hari itu pula aku tidak bertemu dengan Kris, bukan menghindarinya tapi memberi waktu untuk diriku sendiri agar siap jika bertatap muka dengannya. Jujur, setelah kejadian itu cara pandangku terhadapnya berubah. Aku memandangnya sebagai seorang pria, bukan seorang kakak lagi seperti Luhan.

Aku berkeliling ditaman tempat biasa kami bertiga main saat masih kecil. Tidak ada yang berubah dari taman ini. Aku duduk disalah satu ayunan kayu di tengah taman, mengayunnya seorang diri perlahan. Mengingat kembali saat Kris mengayunnya untukku dulu. Lalu aku berjalan menuju sebuah bangku yang dibelakangnya terdapat sebuah pohon tinggi. Tepat dibatang pohon itu, masih terukir nama kami bertiga, Kris, Hyeri, Luhan dengan bingkai berbentuk hati. Kuraba tulisan tersebut yang perlahan hampir menghilang.

“Ternyata kau disini” suara Luhan mengejutkanku dari belakang.

“Kau mengejutkanku. Kapan kau datang?” Tanyaku lalu duduk dibangku taman diikuti Luhan yang duduk disebelahku.

“Baru saja” jawab Luhan singkat.

Kami berdua diam, tidak ada yang saling bicara. Kulihat Luhan yang sedang memandang kesekeliling taman. Kupandangi wajahnya diam-diam, mencoba membandingkannya dengan Kris. ‘Kenapa perasaanku berbeda pada Luhan?’ Batinku sambil masih memperhatikan wajahnya.

“Apa ada yang aneh dengan wajahku?” Ucapan Luhan membuyarkan pikiranku. Aku tertawa kecil menanggapinya.

“Tidak, kau justru terlihat lebih tampan sekarang”

“Ah, kau benar. Aku tampan bukan?” ujar Luhan sambil membuat pose sok tampannya.

“Haaah, iya iya kau tampan”

“Akhirnya kamu mengakui ketampananku, haha” Luhan tertawa puas. “Lalu bagaimana dengan Kris? Apa dia tampan juga?”

Pertanyaan itu membuatku diam seribu bahasa. Dulu dengan mudah aku bilang Kris tampan, bahkan lebih tampan daripada Luhan. Tapi entah mengapa sekarang sulit untukku. Pertanyaan ini bukan menyangkut soal fisik lagi, tapi sudah menyangkut soal perasaan. Luhan menyenggol bahu perlahan dengan lengannya, menatapku menunggu jawaban. Kutatap mata Luhan, mencari keyakinan jika aku benar-benar menyukai Kris.

“Iya, dia juga tampan” ujarku seraya menatap ke arah sepatuku, tidak berani menatap mata Luhan.

“Nah, cepat kau bilang padanya. Pasti dia senang
setengah mati.”

“Maksudmu?” Tanyaku heran dengan apa yang Luhan katakan.

Perlahan tangannya bergerak menangkup wajahku, “kau pikir aku tidak tahu semuanya? Aku tahu Kris menyukaimu dari dulu. Begitu pula kamu.”

Kucoba melepaskan tangan Luhan, tapi tidak bisa. Bagaimana dia bisa yakin aku juga menyukai Kris.

“Kau tidak bisa menyembunyikan perasaanmu padaku. Aku sering melihatmu memperhatikan Kris diam-diam. Yah meskipun kadang-kadang kamu lupa akan perasaanmu padanya, tapi Kris juga tidak bisa menyembunyikan perasaannya juga dariku. Dia juga sering memperhatikanmu. Dan dia serius menyukaimu”

Kucoba sekali lagi melepaskan tangan Luhan dan untung kali ini bisa. Kualihkan pandanganku dari Luhan mencoba menutupi pipiku yang kini pasti sudah memerah.
“Eiiiyy , pipimu kenapa merah seperti itu?” Ledek Luhan dengan senangnya sambil menunjuk pipiku.

“Ti…tidak..” balasku menutupi kebohonganku, tapi sepertinya tidak berhasil. Dari suaraku saja sudah jelas bukan? Dan Luhan malah tambah menggodaku.

“Hei hei hei, kamu ga bisa bohongin aku. Apa susahnya hanya bilang iya hm?” Ujar Luhan yang sekarang tengah merangkulku.

“Jadi aku boleh menyukainya?”

“Kenapa kau malah tanya padaku? Kalau kau menyukainya silahkan saja” balas Luhan santai.

“Bukan itu maksudku, kita kan bersahabat. Tidak apa kalau aku dan Kris berpacaran nanti?”

Luhan melepaskan ranggkulannya, “selama aku tidak diacuhkan kalau kita sedang berkumpul, bagiku tidak masalah” ujar Luhan lalu tersenyum.

“Kau memang kakak yang baik Luhan” ucapku dan memeluknya.

Luhan mengantarku pulang, tidak terasa kami berdua mengobrol hingga senja tiba. Berkat Luhan juga, kini aku yakin dengan apa yang aku rasakan pada Kris. Malam ini kuputskan untuk memberitahu Kris tentang perasaanku juga. Kuraih ponsel yang terletak dimeja riasku, lalu segera kucari nomor telepon Kris. Tapi tiba-tiba ponselku berdering dan nama Kris tertera dilayar ponselku. Tanpa berpikir panjang langsung kutekan tombol jawab.

“Hai Kris”

“Cepat sekali kau angkat teleponmu” balas Kris di sebrang sana.

“Kebetulan aku sedang memegang ponselku. Memangnya kau mau aku tidak menjawab teleponmu?” ujarku tidak mau kalah. Dasar orang ini, baru saja aku ingin bersikap baik padanya. Kris hanya tertawa pelan.

“Ada apa kau meneleponku?” ucapku sedikit ketus biar dia tahu rasa.

“Yaah, begitu saja kamu marah. Jangan sering marah-marah nanti cantikmu hilang” goda Kris.

Pipiku bersemu merah saat Kris bilang seperti itu. Untungnya dia tidak disini melihatku.
“Pasti wajahmu merah saat ini, hahaha” dia tertawa dengan puasnya meledkku.

“Yah!! Kau ini meleponku hanya ingin menggangguku hah?” Dia malah semakin tertawa mendengarku marah seperti ini. “Cepat katakan ada apa kau meneleponku? Aku sangat sibuk!!”

“Iya, maaf maaf” akhirnya dia berhenti tertawa. Selucu itukah aku dimatanya?
“Bisa kita bertemu sekarang? Aku akan menjemputmu 15 menit lagi”

“Sekarang? Baiklah, aku siap-siap dulu. Tapi mau kemana?”

“Ada yang ingin kukatakan padamu”

“Oh, baiklah”

Setelah itu sambungan telepon terputus dan aku langsung bergegas mengganti pakaianku. Kuraih tasku dan tidak lupa kubawa syal buatanku untuk Kris. Aku bercermin sekali lagi, memastikan dandanku. Entah mengapa rasa cemas mengerubuni hatiku. Apakah seperti ini rasa ingin mengungkapkan perasaan pada seseorang?

“Hyeri-ya, Kris sudah datang” suara ibuku membuyarkan lamunanku. Segera kuturuni anak tangga secepatnya.

“Hai Kris. Maaf membuatmu menunggu”

“Tidak apa. Bisa kita pergi sekarang?”

Selama diperjalanan tidak ada yang bicara, Kris maupun Hyeri sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hyeri memainkan jemarinya menghilangkan rasa cemas dihatinya. Kris fokus menyetir tanpa menoleh sedikitpun.

Kris membawa Hyeri ke sebuah cafe kecil yang terletak di pinggir jalan, tempat dimana mereka bertiga biasa berkumpul diwaktu luang. Dicafe itu terdapat panggung kecil dengan grand piano berwarna putih menghiasinya, pada hari-hari tertentu cafe ini menyuguhkan penampilan secara langsung. Mereka mengambil meja yang dekat dengan jendela kaca, memperlihatkan suasana ramai jalan raya malam hari. Kris dan Hyeri duduk saling berhadapan. Keduanya masih saling diam sampai seorang pelayan menghampiri meja mereka memberikan buku menu.

“Kami akan pesan nanti” Kris mengembalikan menu itu kepada pelayan tersebut dan pelayan itu pergi meninggalkan mereka.

“Apa yang ingin kau katakan?” Hyeri bertanya lebih dulu, ia jenuh dengan sikap Kris yang sekarang ini.

“Kenapa kau tidak mau bertemu denganku 2 hari ini? Apa kau marah?” Tanpa berpikir panjang, Kris langsung menanyakan sebab Hyeri tidak mau menemuinya.

“Tidak Kris, aku tidak marah. Aku hanya butuh waktu untuk berfikir”

“Jadi hari ini sudah cukup waktu untuk berfikirkan?” Hyeri mengangguk menanggapi pertanyaan Kris.

“Kau mengajakku keluar hanya untuk menanyakan hal ini ?”

“Salah satunya itu. Tapi ada hal lain yang ingin kukatakan” Kris menarik nafas dalam, “aku akan pergi ke Kanada”

Hyeri diam, ia tidak tahu harus berkata apa. Kenapa disaat ia ingin menyatakan perasaannya juga, Kris malah pergi. Pandangannya kosong, meskipun ia menatap Kris yang sedang menunduk.

“Besok aku berangkat, penerbangan sore hari. Mungkin sebulan aku akan tinggal disana, atau lebih. Dan Luhan sudah kuberitahu tadi lewat telepon” ucap seolah bisa membaca pikiran Hyeri.

“Apa kamu lari dariku?” Tanya Hyeri langsung, ia hanya penasaran kenapa Kris tiba-tiba pergi ke Kanada saat hatinya sudah siap menerimanya, “sudah kubilang aku tidak marah. Aku hanya butuh waktu. Apa kau tidak bisa menunggu?”

“Bukan itu alasannya, sampai kapan pun aku akan tetap menunggu jawaban darimu. Apapun itu, aku tidak akan lari”

“Lalu apa?” Airmata Hyeri sudah menggenangi pelupuk matanya. Ia alihkan pandangannya dari Kris agar tidak terlihat olehnya.

“Ada masalah keluarga yang harus diselesaikan. Semua anggota keluarga diharuskan hadir. Dan aku akan membantu bisnis papa disana sementara waktu. Kuharap saat aku kembali nanti, kau sudah siap dengan jawabanmu”

***

Maaf yaa kalo banyak typo disana sini, maklum author nya masih newbie, maaf juga kalo alur ceritanya ngebosenin :(

Believe (part 8 , ending)

Puteri POV
Ada yang kurang yang aku raskan saat ini. Padahal aku harusnya senang setengah mati karena bisa sedekat ini dengan semua member Super Junior. Tapi bagiku, Super Junior belum lengkap jika tanpa Kibum. Kibum sampai saat ini juga belum terlihat batang hidungnya. Sedikit rasa kecewa mungkin. Tapi sebisa mungkin aku tersenyum.

Mungkin kali ini tuhan mengabulkan doa ku selama ini. Laki-laki itu kini berdiri diambang pintu sambil memeluk sebuah boneka Minnie mouse yang sangat aku kenali.
“apa ada yang lucu yang aku lewatkan?” itu lah kata pertama yang aku dengar keluar dari mulutnya.
“Put, impian lo jadi kenyataan tuh” bisik Eka. Ya, impian ku memang menjadi kenyataan. Boneka itu kini ada ditangan Kibum. Aku menatap Eka dan Dea bergantian. Hampir jatuh airmataku. Tapi sebisa mungkin aku tidak mau menangis saat ini.
“Kibum oppa” suaraku terdengar lirih. Bisa aku rasakan.

Kibum mendekat kearahku. Tapi aku sadari bukan hanya ada aku disini. Ada Leeteu, Heechul, Hangeng, Yesung, Eka dan Dea. Juga aku. Kibum sampai didepanku. Dia duduk bersila dibawah tepat didepanku.
“kenalkan, ini temannya Jongwoon” Heechul membuka pembicaraan saat Kibum baru saja duduk.
“jinca? Yang mana?” tanya Kibum.
Sedikit rasa kecewa, karena Kibum hanya ingin mengetahui teman Yesung oppa yang berarti itu bukan aku. Melainkan Eka. Aku rasa Eka juga menyadari kekecewaanku, dia pun meluruskan kalimat Heechul, “kami semua temanya Yesung oppa.”
“ye, mereka semua temanku” tambah Yesung oppa juga.
“oh ya, Kibum-ah yang paling pojok itu biasmu” Kangin oppa menunjukku. Seketika itu juga sepasang mata milik Kibum oppa menatap mataku. Kutundukkan kepalaku menghindari tatapan langsung darinya. Setengah mati aku menahan malu. Dea yang terus saja menggodaku menski pun diam-diam. Eka yang juda terus menojokkanku dengan berkata saat konser tadi mati-matian aku meneriakkan namanya.
‘emangnya dia tau apa? Satu barisan juga kaga’ omelku dalam hati. Tapi Dea malah mengiyakan setiap perkataan Eka. Memang apa yang dikatakan Eka itu benar. Tapi tidak perlu diceritakan semua kan? Tapi biar lah. Biar Kibum juga tahu kalau aku sangat-sangat menyukainya.

Sepertinya perkataan Eka dan Dea membuat Kibum penasaran denganku. Pasalnya aku tidak mengiyakan juga tidak menolaknya. Tapi ada satu hal yang tidak Eka dan Dea ceritakan. Masalah boneka itu. Eka tidak cerita kalau boneka itu adalah milikku sebelumnya, yang memang akan aku berikan untuk Kibum. Mungkin juga Eka ingin aku mengatakannya langsung. Perlahan aku dan Kibum larut dalam obrolan ringan.
“apa benar yang diakatan kedua temanmu?” tanya Kibum tanpa menatapku. Kami memilih mengobrol dari kejauhan member yang lain. Selain tidak nyaman juga krena candaan mereka, aku juga tidak mau semuanya tahu apa yang ingin aku sampai kan padanya.
“ne. aku memang sangat menyukaimu” Kibum menatapku. Aku tahu karena aku mengintip sebentar. Ada ekspresi bingung diwajah Kibum.
“sebagai fans tentunya” sambungku. Aku tahu tadi Kibum pasti bingung mendengarnya kalau aku tidak tambahkan. Ya, memang sebenarnya aku menyukai Kibum. Tapi aku gadis yang sadar diri. Tidak berani berharap terlalu jauh. Cukup dalam cerita yang aku, Eka, dan Dea buat saja berharap mereka bisa menjadi pasangan selamanya. Hanya dalam cerita. Aku menatapnya yang sedang memainkan boneka Minnie mouse itu.
“hadiah dari fans?” tanyaku hati-hati. Aku tidak mau Kibum menyadari kalau hadiah itu dariku.
“molla. Tadi boneka ini aku temukan tergeletak dijalan” balasnya sambil memainkan boneka itu.
“oppa suka?” tanyaku lagi penasaran dengan jawabannya tadi. Tidak mungkin Kibum mau mengambil boneka yang sembarangan tergeletak dijalan.
“ne. ini kan konstum yang aku pakai saat menyanyikan lagu carnival. Padahal sebelumnya aku tidak pernah tampil pada lagu itu. Tapi orang ini bisa menebak kostum apa yang akan aku pakai. Aku rasa fans itu tahu betul tentang aku” jawabnya panjang lebar. Padahal Kibum oppa terkenal dengan diamnya. Secara tidak sadar senyumku terkembang dalam hati. Senang? Sudah pasti. Boneka pemberianku begitu berkesan untuk Kibum.
“kenapa kau tersenyum?”
“apa aku terlihat seperti itu?” tanyaku membalas pertanyaannya.
“sangat jelas terlihat kau tersenyum senang” jawb Kibum memastikan. Apa iya aku terlihat tersenyum? Aku rasa senyumku hanya dalam hati. Apa Kibum dapat melihat isi hatiku.
“aku tersenyum karena aku rasa aku satu-satunya ELF yang mendengar oppa bicar panjang lebar seperti tadi” sontak Kibum tersenyum mendengar alasanku. Sangat manis dan sangat aku rindukan. Aku memilih pergi dari pada mati melihat senyumnya.
“mau kemana?” tanyanya melihat kepergianku.
“kau tahu siapa yang meletakkan boneka itu?” aku menunjuk boneka Minnie mouse yang masih dipelukknya dengan dagu. Tanpa menunggu jawabannya aku menjwab sendiri pertanyaanku, “itu dariku” seketika itu juga meskipun sebentar aku melihat raut wajah kaget diwajah Kibum yang berimbas ku tidak bisa menatapnya lagi. Aku langsung pergi kearah kerumunan member Super Junior yang lain. Sementara Kibum tetap duduk menyendiri. Meski pun dari jauh, aku masih bisa melihatnya tersenyum sambil memandang boneka itu.

Author POV
Kelima belas pria dan tiga gadis larut dalam candaan masing-masing. Ada yang memeragakan tarian girlband, ada yang menunjukkan kebolehannya menirukan suara orang lain. Ada juga yang sibuk dengan obrolan lainnya. Semua bersenang senang bersama. Saling tukar cerita saling berbagi. Ada yang tersenyum malu mengakui ceritanya. Ada juga yang tersenyum karena diidolakan. Semua berbaur menjadi satu.

“ini sudah malam. Apa kalian tidak mau pulang” usul Hangeng yang membuat Eka, Puteri dan Dea kecewa.
“hyung-ah, kau membuat mereka sedih” sindir Yesung.
“ani oppa, hangeng oppa bener. Ini udah malem. Kalian juga pasti butuh istirahat” ucap Dea disertai anggukan Eka dan Puteri.
“ne, ini sudah larut malam. Kalian pasti sangat lelah. Maaf kalau kami mengganggu waktu istirahat kalian” kini Eka berdiri da menundukkan badannya sedikit. Puteri dan Dea pun melakukan hal yang sama. Sontak semua member SuJu pun ikut berdiri.
“anio, kalian tidak perlu minta maaf. Kalian tidak salah. Justru kami yang harusnya berterima kasih karena kalian sudah datang dan membagi cerita bersama kami” ucap sang leader, Leeteuk sambil membungkukkan badannya sedikit juga.
“kami juga harus berterima kasih sama Yesung oppa dan Eka. Kalau bukan karena mereka berdua, mungkin aku dan Dea tidak akan pernah bertemu dengan oppadeul” seru Puteri yang sepertinya ingin menangis. Kini semua terdiam dengan pikiran masing-masing.

Kenapa waktu harus terus berjalan diasaat aku ingin sekali waktu berhenti. Agar aku bisa terus bersama mereka. Tapi aku tahu itu mustahil. Sekeras apapun aku menghentikan waktu, tidak akan bisa. Mungkin kali ini waktu memberikan kesempatan untuk bertemu. Tapi waktu juga yang memberi kesempatan untuk berpisah.

Kenapa waktu terasa berjalan begitu cepat? Rasanya baru semenit aku bersama mereka, tapi nyatanya hampir 3 jam kami bersama. Tapi waktu 3 jam tidak cukup untuk aku dan juga teman-temanku untuk membayar semua yang kami lakukan selama ini sebelumnya. Tapi aku sadar, dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan. Dan kali ini waktu nya berpisah.

3 jam serasa sebentar untukku. Padahal aku selalu mengeluh waktu 3 jam itu sangat lama saat dikerjaan. Tapi kenapa aku ingin sekali waktu berjalan sangat lambat saat ini. Bahkan kalau bisa berhenti sekalian. Jujur aku tidak mau jika harus tertidur saat ini. Karena saat aku bangun nanti, aku tidak akan melihat wajah-wajah ini lagi. Hanya sekali waktu memberi kesemptan ini. Hanya sekali.

Ketiga gadis itu bangun dari duduknya dan bersiap untuk keluar dari ruangan yang penuh sesak tapi nyaman didalamnya.
“tunggu sebentar” cegah Heechul tiba-tiba. “kita belum punya foto bersama kan?” sambungnya sambil memegang sebuah kamera Polaroid.
Semua member tersenyum dan pastinya ketiga gadis tersebut. “hyung-ah, kau genius” balas Yesung.

Semuanya kembali ceria berfoto bersama. Sebanyak mungkin mengambil gambar untuk diabadikan. Pertama, semua member SuJu dan ketiga gadis itu. Heecul meminta salah satu staff untuk mengambil foto mereka. Kedua, hanya Eka dan semua member SuJu, Dea dengan member SuJu dan Siwon disebelahnya, Puteri dan Kibum yang merangkulnya dan boneka Minnie mouse nya serta member SuJu yang lain. Kemudian foto dengan bias masing-masing. Eka dengan Yesung yang saling memunggungi satu sama lainnya, Dea yang dengan senangnya dipeluk Siwon dan tidak lupa barbell pemberian Dea. Puteri dengan Kibum yang memperlihatkan senyum terbaiknya. Dan juga ketiga gadis itu dengan member SuJu yang lain. Leeteuk meminta foto mereka bertiga tanpa member SuJu yang lain. Alasannya untuk kenang-kenangan.

Setelah puas berfoto bersama, kini saatnya perpisahan yang sesungguhnya. Semua member SuJu mengantar kepulangan Eka Puteri dan Dea dengan bis mereka. Selama diperjalanan, tidak ada yang membuka suara. Semua terdiam dengan kesibukkan masing masing. Sampai tiba saatnya berpisah. Bis mereka, mereka hentikan di perempatan jalan. Karena bis mereka tidak muat jika masuk kedalam gang menuju kost-kostan Eka dan teman-temannya.
“terima kasih buat oppadeul yang udah buat impian kami bertiga jadi kenyataan. Foto ini akan selamanya aku simpan, meskipun gambarnya nanti memudar, tidak akan pernah aku buang. Keran meskipun gambrnya tidak ada lagi, tapi kenangannya tetap ada” ucap Puteri yng bersusah payah menahan air matanya. Dengan pasti, kedua temannya ikut menangis dan menundukkan kepala mereka. Karena tidak mau mereka terlihat menangis di depan semua member SuJu. Karena ELF sudah berjanji tidak akan menangis lagi. Perlahan semua member SuJu dan dan memeluk mereka bersamaan.
“terima kasih untuk tidak menangis dihadapan kami. Terima kasih karena sudah bertahan untuk menunggu kami kembali bersama. Terima kasih karena telah menjadi ELF untuk kami” ucap Kibum bijak. Meskipun tidak terlihat tapi semua member tersenyum dan mengiyakan ucapan Kibum.
Satu persatu member SuJu melepas pelukkannya, memberi ruang bernapas untuk ketiga gadis itu.
“jangan menangis. Kalian tahukan aku tidak suka melihat yohja menangis?” ucap Heechul. Seketika itu juga Eka Puteri dan Dea berhenti menangis.
“maaf, tapi kami tidak bisa menahannya” aku Dea.
“terima kasih sekali lagi” kali ini Eka tersenyum mengucapkannya.
“oh ya, kami belum memperkenalkan diri kami bukan?” tanya Kangin membuat ketiga gadis itu mengerutkan keningnya.
“siap?” ucap Leeteuk mengapalai.
“hana, dul, set, annyeong haseyo, Super Junior imnida. Urineun Syupeojunieo-yo” ucap semua member SuJu serempak sambil melebarkan kelima jari mereka. Perkenalan diri yang membuat ketiga gadis itu menangis lagi, tapi kali ini menangis bahagia. Karena harapan mereka selama ini terwujud. Mereka telah berjanji dan mereka juga percaya kalau semua nya akan kembali seperti dulu selamanya. Promise To Believe.
“aigo, kenapa kalian menangis lagi” ucap Sungmin dengan gaya aegyonya membuat ketiga gadis itu tersenyum.
“anio oppa, kami tidak menangis. Kami hanya senang melihat oppadeul kembali” ucap Eka disela isakan tangisnya. Seketika itu juag semua member SuJu tersenyum.
“karena kalian selalu percaya, maka kami kembali” kali ini Donghae yang berkata membuat ketiga gadis itu menangis lagi.
“ya! Sudah aku bilang aku paling benci melihat yohja menangis. Cepat hentikan tangis kalian sebelum kami pergi” ucap Heechul galak, tapi terselip rasa cemas juga dinada suaranya.
“ne, oppa kami tidak lagi menangiskan?” Dea sudah sepenuhnya menghapus airmatanya. Eka juga. Kini tinggal Puteri seorang diri yang masih menangis. Kibum mendekat dan menundukkan wajahnya menatap Pueri yang sedang menangis.
“kita akan bertemu lagi” ucap Kibum, Puteri masih menangis. “aku berjanji. Suatu saat nanti kita akan bertemu lagi” tambah Kibum, seketika itu juga Puteri mengangkat wajahnya dan langsung berhadapan dengan senyum Kibum. Puteri balas tersenyum dan menghapus air matanya. “baiklah aku tunggu janji oppa” ucapnya.
“ne, kami berjanji akan bertemu dengan kalian lagi” ucap Kyuhyun dan diiyakan member lain.

Ketiga gadis itu tahu bahwa janji itu tak akan terrealisasikan. Mungkin jika iya, mereka hanya akan bertemu dalam konser lagi. Tidak sepeti tadi. Tapi ketiga gadis itu menaruh harapan yang kuat terhadap janji itu. Janji bahwa kami akan seperti ini suatu saat nanti.
“oh ya, kami bertiga juga belum memperkenalkan diri kami” kali ini gentian semua member SuJu yang keningnya berkerut.
“hana, dul set, annyeonghaseyo, urineun elpeureul imnida” sahut mereka bertiga kompak seperti idolanya. Semua member SuJu sontak terkejut dan tertawa.
“baiklah, karena ini sudah malam, kalian harus istirahat. Terima kasih sekali lagi sudah menemani kami selama 3 jam tadi” ucap Hangeng.
“ne, terima kasih juga oppadeul udah kasih kesempatan kami untukbersama oppadeul” ucap Dea.

Bis yang membawa pria-pria tampan itu berjalan menjauhi tempat ketoga gadis itu berdiri.
“gak bakal bisa tidur nih malem” Eka bersuara terlebih dahulu.
“udah pasti” balas Dea diikuti anggukkan Puteri.
Mereka bertiga pun berjlan bersama dalam diam. Sampai sebuah pertanyaan Eka membuat Puteri dan Dea diam setengah mati,
“oh iya, tadi gu gak liat Yesung make kalung dari gu. Lo sampein kan De?” tanya Eka pada Dea. Dea terlihat berpikir dan tiba-tiba saja, menjadi pucat saat diingatnya hadiah itu masih terselip dalam ranselnya.
“lo kasih kan De?” tanya Eka lagi kali ini sambil menatap Dea, dan menghentikan langkahnya.
“Dea? Lo kasih kan?” ucap Eka lagi dengan penekanan pada kata ‘kasih’nya. Dea menatap Eka takut-takut.
“hehehe, maaf Ka gu lupa” ucap Dea hati-hati. Sesaat Eka terdiam dan berjalan kembali.
“Put, lo kok gak ingetin gu sih?” eluh Dea pada Puteri.
“yah, mana inget juga gu. Lagian kan yang dititipin lo, bukan gu” bela Puteri karean dia merasa tidak bermasalah.
“ya, tapi kan tadi lo denger juga” Dea tidak mau kalah.
“udah yang penting sekarang kita liat ajah Eka gimana” mereka berdua pun mengejar Eka yang masih berjalan sambil diam.
“Eka, sorry gu bener-bener lupa” ucap Dea penuh penyesalan. Seketika Eka berhenti berjalan dan menatap Dea. Seketika itu juag tangsi Ek pecah
“huaaaaaaa, Dea lo jahat. Masa lo gak kasih ke Yesung sih”
“Maaf, gu baner-bener lupa. Suer deh” ucap Dea lagi.
“iya Ka, gu juga lupa ngasih tau Dea” kini Puteri ikut menenangkan Eka.
“bodo, lo berdua jahat” seru Eka masih dalam tangisnya. Eka pun pergi meninggalkan Dea dan Puteri. Tapi kedua mengejar masih dengan membujuk Eka sampai depan Kostan mereka.

FIN

NB : to be continue buat sekuel keduanya ^^

Believe (part 7)

Eka POV
Seseorang terlihat membalikkan dirinya dariku, suara ponsel ini berasal darinya, ya tidak salah lagi. Dan aku yakin jika aku yang meneleponnya dan yang sekrang sedang aku telepon adalah Kim Yesung.
“Kim Yesung?” aku memberanikan diri memanggil namanya. Tidak peduli jika itu bukan dia sekali pun.
Dia pun membalikkan badannya dan dalam sekejap dia membuat aku, Puteri dan Dea diam membisu.

Bagaimana reaksimu jika kamu bertenu idola mu yang kamu kagumi selama ini? Yah, itulah yang terlukis diwajah kami bertiga.
“hai” sapanya pelan, meskipun pelan aku dengan jelas bisa mendengar suaranya. Suarang yang selama ini hanya aku dengar dari mp3 dan yang baru saja aku dengar tadi.
“yesung” kata-kata itu keluar dari mulut Dea. Meskipun menggunakan masker dan kacamata hitam, sosok Yesung tidak akan bisa mengelabuhi kami bertiga.
“please don’t scream” pinta Yesung halus. Kami bertiga langsung mengangguk dan langsung menutup mulut kami masing-masing.
“follow me” perintah Yesung dan kami bertiga seperti tersihir mengikuti apa yang Yesung katakan. Yesung membawa kami bertiga kembali kedalam stadium. Dan kali ini dia melepas kacamata hitam masker dan topinya.
“astagfirullah, ganteng banget nih orang” seru Dea melihat Yesung langsung dari jarak dekat.
“gu gak ngimpikan?” tanya Puteri pada dirinya sendiri. “coba Ka lo cubit gu?” pinta Puteri. Aku pun mencubit pipinya tidak pelan.
“aduh, sakit” keluh Puteri. “pelan-pelan napa nyubitnya” tambah Puteri.
Sedangkan aku? Masih diam membisu. Kejadian tidak terduga yang sangat luar biasa dalam hidupku. Bertemu idolaku langsung. Yang lebih mengejutklan lagi, harapanku selama ini bahwa teman dunia mayaku ini benar-benar Kim Yesung Super Junior jadi kenyataan.
“eh, tunggu. Emang oppa bisa bahasa Indonesia?” tanyaku polos.
“ya, sedikit” balasnya dengan bahasa Indonesia juga yang masi ada logat Koreanya.
“berarti oppa ngerti dong apa yang tadi aku omongin?” tanya Puteri juga. Kali ini Yesung hanya mengangguk.
“ikut aku” Yesung menyuruh kami bertiga mengikutinya lagi.
“mau kemana oppa?” tanya Dea. Belum sempat Yesung menjawab, Puteri menarik Dea ikut bersama kami.
“udah ga usah banyak omong” seru Puteri.

Author POV
“Yesung hyung kemana?” tanya laki-laki yang sedang menyenderkan tubuhnya dikursi empuk nan nyaman sambil main PSP nya.
“menemui temannya” jawab singkat laki-laki lainnya.
“aku tahu seperti apa temannya Yesung hyung” seru laki-laki yang paling tinggi diantara yang lain. “kau juga tahu kan Henry-ssi?” tambah laki-laki itu lagi. Yang dipanggil Hnery itu pun mengangguk menjawabnya. Seketika itu juga, ke 12 laki-laki yang lain mengerubuni 2 laki-laki lainnya.
“yang bener?”
“bagaimana dia hyung?”
“apa dia juga aneh seperti Yesung hyung juga?”
“satu-satu dong nanya nya. Jadi bingung nih jawab nya” protes laki-laki yang bertubuh kecil.
“ya! Kau berani membentak hyung mu?” sahut laki-laki yang berparas seperti wanita itu.
“anio Heechul hyung” laki-laki bertubuh kecil itu pun menunduk lemas.
“gadis itu biasa saja. Tidak cantik, tidak juga jelek. Tapi menurutku dia manis” jelas laki-laki bertubuh jangkung itu sambil membayangkan kejadian di depan toilet tadi.
“itu kan bukan selera Yesung hyung” protes laki-laki yng sedang berkutat dengan PSP nya.
“aku jadi penasaran dengan gadis itu. Capek ngajarin Jongwoon bahasa Melayu. Mending cepet tanggepnya” ucap laki-laki yang paling tua.

“Eka, kita mau dibawa kemana nih sama Yesung?” tanya gadis berambut pendek pada seseorang yang dipanggil Eka.
“kemana ajah gak masalah yang penting sama Yesung” balas Eka.
“wah udah sinting nih anak” gadis itu berbicara pada gadis lainnya, tapi sayang nasibnya juga sama seperti Eka.
“yah, Dea kan bias lo Siwon. Kenapa lo ikutan melongo sih?”
“udah ikutin aja. Kali ajah mau dibawa ketemu sama memberyang laen” jawab Dea tanpa menoleh kearah Puteri. ‘bener juga ya. Gu kan bisa ketemu Kibum juga’ piker Puteri.
Sampai disebuah belokan yang banyak penjaganya, Yesung bicara sebentar dengan penjaganya dan memperbolehkan ketiga gadis itu masuk.
“tuh kan gu bilang juga apa. Kita bakal ketemu sama member yang laen” ucap Dea antusias.
Banyak staff dan kru kru yang bersebaran dimana mana, begitu juga peralatan yang berantakkan. Semua staff disini berbicara dengan bahasa Korea, ada juga staff yang bicara dengan bahasa Inggris. Ketiga gadis itu tidak ambil pusing dengan apa yang mereka bicarakan. Ketiga gadis itu hanya mengikuti kemana Yesung melangkah. Hingga sampai lah mereka dibalik sebuah pintu. Ya, ruang tunggu Super Junior.

Eka POV
Yesung mengajak kami bertiga kedalam ruangan khusus staff dan membawa kami ke ruang tunggu Super Junior. Dari luar saja sudah terdengar suara candaan mereka. Memang aku tidak mengerti apa yang mereka semua bicarakan, tapi itu saja sudah membuat keringat dinginku keluar.
“yang lain pasti sudah menunggu” sahut Yesung sambil tersenyum.
‘apa aku sedang bermimpi? Kenapa terasa seperti kenyataan? Aku tidak sanggup bertemu mereka sekarang. Dan masih belum saatnya juga’ pikirku kacau sekaligus senang. Senang bukan main pastinya. Dibalik pintu ini aku bisa melihat mereka semua. Hanya selangkah lagi aku dapat bertemu mereka. Yesung metapku sesaat dan membuka pintu, seketika itu juga sepertinya nyawaku melayang entah kemana.

Dea POV
Dibalik pintu ini aku bisa mendengar suara candaan mereka. Mereka yang baru tadi aku lihat beraksi diatas panggung. Hanya selangkah lagi aku bisa melihat mereka dari dekat. Aku tidak pernah membayangkan bisa bertemu dengan Yesung, apalagi berharapbertemu dengan member yang lain. Butuh keajaiban untuk dapat bertemu dengan mereka. Tapi kini keajaiban itu datang menghampiriku.
Ketika pintu dibuka Yesung, pandanganku terhenti pada sesosok laki-laki yang sedang duduk di sof sambil berolahrga.

Puteri POV
Suara mereka terdengar ceria saat ini. Padahal mereka baru saja menyelesaikan konser yang meriah dan sangat melelahkan untuk mereka. Tapi kenapa mereka masih bisa bercanda seperti itu. Harusnya mereka beristirahat sejenak. Yesung membuka pintu itu dan saat itu juga aku melihat semua member yang sedang bercanda dan juag dengan kesibukan pribadi mereka. Leeteuk yang sedang menyenderkan pundaknya disofa, Ryeowook yang bercanda dengan Henry dan Sungmin, Kyuhyun yang sibuk dengan PSP nya, Eunhyuk yang tidak letihnya menari terus. Heechul yang sepertinya tidak mau lepas dari Hangeng. Tapi kemana Kibum? Aku tidak melihat sosoknya.

Author POV
“annyeong memberdeul” sapa Yesung saat membuka pintu. Semua member langsung melihat kearah Yesung dan 3 gadis yang berada dibelakangnya.
“hyung!” Heechul menarik tangan Yesung dan membawanya kepojok ruangan.
“ini temanmu? Katanya Cuma sendiri????? tanya Heechul langsung.
“tadinya aku kira juga sendiri tapi tadi pas ketemuan dia bareng sama temenya. Ya udah aku ajak ajah sekalian. Kan kalo dia sendiri juga pasti nervous hyung” balas Yesung.
“tapi mereka tidak memberitahu yang lain kan?” tanya Heechul dengan suara yang lebih kecil.
“sepertinya tidak hyung. Sudah aku yang tanggung jawab kalo ada apa-apa” Yesung pun meninggalkan Heechul dan kembali lagi ke samping 3 gadis yang masih diam seperti patung.
“Leeteuk hyung terima kasih sudah mebgajariku bahas Melayu” sahut Yesung membuat Eka terkejut.
“jadi yang mengajarimu Leeteuk oppa?” tanya Eka langsung. Sungmin langsung menghampiri Yesung dan mengtakan sesuatu.
“kata Sungmin yang bisa bahasa melayu Cuma Leeteuk hyung” jelas Yesung.
“aigo, Sungmin oppa kyeopta” seru Puteri yang membuat semua member Super Junior kaget.
“kalian bisa bahasa Korea?” tanya Hangeng. Eka, Puteri dan Dea mengangguk.
“kenapa tidak bilang dari tadi. Aku jadi bingung mau menyapa kalian” sahut Donghae mendekat.
“Eka, Donghae cakep juga ya diliat dari deket” bisik Puteri dengan bahasa Indonesia.
“inget Kibum” sahut Eka membalasnya.
“Eka, gu gak ngimpi kan?” tanya Dea masih tetap diam.
“gak Dea lo gak ngimpi. Sini mau gu cubit?” Puteri pun menawarkan diri.
“gu mau nya dicubit sama Siwon ajah” pinta Dea.
“oppa, kata temanku dia pengen ngomong sama Siwon” seru Puteri tanpa malu. Siwon pun langsung berjalan mendekat kearah mereka saat mendengar namanya disebut.
“annyeong oppa” sapa Eka dan Puteri bersamaan sementara Dea malah terlihat pucat.
“annyeong. Kau gadis yang tadi memberiku barbell ini kan?” tanya Siwon langsung pada Dea.
Wajah Dea terlihat memerah saat Siwon bertanya padanya, Dea menunduk malu menutupu wajahnya.
Melihat Sungmin, Donghae, Siwon dan Yesung asik mengobrol member yang lain pun menghampiri mereka.

Butuh waktu setengah jam untuk Eka, Puteri dan Dea untuk beradaptasi dengan semua member Super Junior. Sekarang mereka bisa tertawa lepas dengan semua member Super Junior. Kini mereka bertiga mengobrol bersama semua member Super Junior.
“kau yang temannya Yesung hyung, bagaimana bisa kau kenal dengan Yesung hyung?” tanya Kangin yang memang tidak tahu.
“aku oppa?” tanya Eka meyakinkan. Kangin pun mengangguk.
“dari FB. Ku pikir Kim Yesung yang aku kenal bukan Yesung oppa. Karena yang aku tahu Yesung oppa kan gak punya FB” jelas Eka.
“kau tahu Yesung itu diajari bahasa melayu susah sekali mengertinya” ucap Leeteuk.
“ya hyung, sudah lah. Sekarang kan aku sudah sedikit bisa” bela Yesung.
“oh ya, kemana Kibum oppa? Kenapa dia tidak kelihatan dari tadi?” tanya Puteri yang memang ingin sekali bertemu dengan Kibum.
“entahlah. Dia kan memang lebih suka menyendiri” jawab Heechul. Puteri terlihat sedikit kecewa.
“kau bias nya Kibum?” tanya Leeteuk. Dengan mantap Puteri mengangguk.
“oh ya, kami belum tahu bias kalian berdua. Kalau Eka kan sudah pasti Yesung hyung” ucap Kangin dan semua member mengangguk setuju.
“kau yang berambut pendek. Bias mu Kibum kan?” tanya Heechul.
“iya oppa. Emang kenapa?” tanya balik Puteri.
“selain Kibum siapa lagi?”
“karena aku orangnya setia, bias aku Cuma Kibum seorang” jawab Puteri dengan percaya diri.
“wah, ternyata orang itu punya fans yang setia juga. Aku jadi iri” balas Kangin.
“tenang oppa, biar biasku Kibum oppa, aku tetep suka sama oppadeul kok” tambah Puteri yang dapat banyak ucapan terima kasih dari semua member.
“kau yang satu nya lagi. Siapa namamu?” tanya Shindong.
“aku? Namaku Dea” jawab Dea.
“oh ya. Bias mu siapa?” tanya Eunhyuk. Semua menatap Dea penasaran
“biasku..”
“pasti aku lah” ucap Siwon sebelum Dea menjawab dulu. “iya kan?” tanya Siwon menyenggol lengan Dea. Dea hanya tertunduk malu.
“ya, Siwon ah, jangan terlalu pede kau ini. Bisa saja bias nya itu aku” balas Heechul tidak mau kalah.
“hahahahaha” suara tawa terdengar dari Eka dan Puteri.
“kenapa kalian tertawa?” tanya Yesung.
“tidak oppa, sebenarnya bias nya Dea itu banyak” jelas Eka.
“apa ada yang lucu yang aku lewatkan?” tanya seseorang yang baru saja datang.
“ya Kibum ah, kemana saja kau ini. Kenal akn ini teman-temannya Yesung hyung” Kibum datang dengan sebuah boneka yang ia peluk.
“Put, impian lo jadi kenyataan tuh” sahut Eka berbisik. Puteri hanya diam dan hampir saja menangis meliha Kibum membawa boneka Minnie mouse. Puteri melihat ke Eka dan Dea bergantian sambil tersenyum.

Believe (part 6)

Puteri POV
“Dea, Donghae gak salah ngomong kan? Lagu terakhir?” aku tidak percaya kalau Donghae bilang No Other adalah lagu terakhir untuk konser ini. Sedangkan aku saja belum bisa memberikan hadiah ini untuk Kibum. “tenang Put, kali ini lo pasti bisa kok ngasih boneka ini buat Kibum” Dea terus menyemangatiku. “semoga ajah yang lo bilang bener” ini harapan ku yang terakhir. Jika yang satu ini juga gagal, entah apa yang aku lakukan terhadap boneka ini. Mereka pun mulai menyanyikan lagu No Other, seharusnya aku juga ikut menyanyi bersama yang lain. Tapi hal itu tidak bisa aku lakukan. Aku memikirkan cara bagaimana Kibum dapat menerima hadiahku ini. Aku hampir putus asa saat lagu hampir selesai juga Kibum tidak mendekat kearahku, dia malah duduk manis sambil bernyanyi, aku hendak melempar boneka ini, tapi lagi-lagi Dea melarangnya. “udah gu bilang jangan lempar hadiah lo kalo lo mau Kibum tau nih boneka dari lo” omel Dea. Aku tahu Dea melakukan ini juga untukku. “tapi kapan Kibum kesini? Gu udah cape nunggu” aku mulai putus asa dan menangis lagi.

Lagu pun selesai dan aku belum bisa memberikan boneka ini. “lo liat? Kibum gak kesini. Kenapa gu gak lempar aja nih boneka dari tadi? Kenapa gu harus ngikutin saran lo?” omelku pada Dea. Aku tahu seharusnya aku tidak memarahinya. Aku hanya kesal kenapa aku tidak bisa seberuntung Dea. “lo marah? lo kesel?” tanya Dea. “lo liat ELF yang laen. Gak cuma lo doang yang gak bisa ngasih hadiah buat Kibum. Banyak Put. Lagi pula apa sih arti hadiah buat lo? Yang penting kan Kibum udah tampil sekarang. Kibum udah balik lagi sama SuJu. Itu udah hadiah terbesar yang ELF kasih buat Kibum karena ELF percaya dan dukung Kibum buat balik ke SuJu. Kalo lo emang ELF harus nya lo seneng Put. Bukan kesel kaya gini” ucap Dea penuh emosi. Ya, aku tahu apa yang Dea katakan semua benar. Tapi bagiku masih ada yang kurang. Tapi aku sadar , bukan hanya aku yang tidak bisa memberi hadiah ini untuk Kibum. Banyak ELF lain yang tidak bisa juga,tapi mereka tidak menangis. Mereka tetap senang walau hanya melihat Kibum. Kenapa aku tidak bisa seperti meraka? Kenapa aku harus kecewa? Kini tangisku benar-benar pecah dipelukan Dea. Diiringi lagu Happy Together semua member SuJu mengucapkan salam perpisahan. “udahlah. Mungkin ini bukan waktu yang tepat buat Kibum tau kalao dia punya fans yang nama nya Puteri dari Indonesia” Dea terus berusaha menanangkanku. Mungkin memang bukan saat ini Kibum tahu kalau aku ada untuk nya.
“hiks, hiks, maaf ya gu udah marah sama lo”
“iya, gak apa kok. Gu juga salah ngasih saran yang gak bener buat lo” aku menggeleng tidak setuju.
“gak, lo gak salah lo bener. Sehrusnya gu seneng Kibum udah mau balik ke SuJu. Gu nya aja yang terlalu pengen Kibum tau kalo gu ada. Makasih ya” Dea pun tersenyum mendengar kata-kataku.
“udah. Apus tuh air mata lo. Tuh SuJu udah pengen lewat sisni. Ini kesempatan lo buat kasih hadiah lo buat Kibum” aku mengangguk dan menghapus air mataku. Kulihat semua member SuJu hampir dekat denganku.

Barisan dimulai dari Leeteuk sampai Kyuhyun. Semakin dekat member SuJu menghampiri tempatku. Leeteuk lewat dengan senyum dan bando kelinci yang ia ambil dari tangan ELF, Heechul yang bergandengan tangan dengan Hangeng, Yesung yang menggunakan blangkon, Kangin yang terus melantunkan lagu Happy Togeher, Shindong yang menyalami setiap tangan yang diulurkan ELF, Sungmin yang tersenyum, Eunhyuk yang menggunakan kacamata merah super besar, Donghae yang memakai topi ikan arwana pemberian ELF, Siwon yang sembari membawa barbell pemberian Dea. Dea sudah senang bukan keplang karena barbell nya langsung dipakai Siwon, Ryeowook yang juga melantunkan lagu Happy Togeher, Kibum yang setia menyalami tangan ELF, aku terus berusaha memberikan boneka ini untuknya, dia melihat boneka ini dan hampir saja mengambil nya kalau bukan karena didorong oleh Kyuhyun yang bercanda dengan Kibum. Dan lenyap sudah harapan terakhirku untuk memberikan boneka ini buat Kibum.

Dea POV
Sedikit lagi barisan member SuJu dekat dengan dengan tempatku. Kulihat semua member tersenyum senang. Mereka mengambil hadiah yang setiap ELF lambaikan, tapi tidak semua, mungkin yang mereka anggap unik yang mereka ambil. Kulihat Siwon membawa barbell pemberianku. Betapa senang nya aku karena hadiahku digunakan oleh Siwon. Kulihat Puteri juga masih berusaha memberikan boneka Minnie mouse nya untuk Kibum. Hampir sedikit lagi Puteri berhasil, entah dengan sengaja atau tidak, Kyuhyun mendorong Kibum sehingga Kibum tidak jadi mengambil boneka itu. Puteri terdiam sebentar kemudian perlahan dia berbalik menghadapku.
“Put, Kyu Put. Bukan gu” raut wajah Puteri berubah datar. Ia mengangguk perlahan dan menundukkan kepalanya. Terlihat pundaknya berguncang pelan. Ku beranikan menyentuh pundaknya. Aku takut dia menangis lagi.
“hahhaha, emang ya Kyu itu pantes dapet julukan evil magnae” tawa Puteri. Aku bingung dengan sikap nya ini.
“Put lo gak apa-apa kan? Lo gak sakit kan?” tanyaku mulai khawatir. Aku takut dia berubah jadi sakit jiwa.
“gu gak apa kok. Nyantai ajah De” balas Puteri. Aku merasa lega dia bilang tidak apa-apa.
Beberapa saat Puteri diam membisu, kemudian dia melotarkan pertanyaan yang sangat aneh, “De lo bawa piso gak?”
“piso? Buat apaan?” tanya ku heran.
“gu mau nusuk nusuk…”
“jangan Put, lo simpen ajah. Suatu saat lo pasti bisa kok ngasih boneka ini buat Kibum” selakku sebelum mendengar lanjutan kata-kata Puteri.
“siapa yang mau nusuk-nusuk ni boneka?”
“trus buat apaa?” tanyaku heran.
“buat nusuk Kyu, huaaaaa, gara-gara dia hadiah gu gak jadi diambil Kibum. Kyu lo jahat banget. Awas ya kalo ketemu. Gu pites lo” omel Puteri. Untung lah penonton yang lain tidak mendengar. Kalau ia, bisa jadi masalah besar.
“Put udah Put. Ntar kalo didenger sparkyu bisa di bully lo” kataku memperingatinya.
“bodo gu gak peduli. Kyu udah ambil semua nya dari gu” rengek Puteri. ‘aish, seperti nya hidup dan mati nya cuma buat Kibum’ batinku melihat sikap nya.

Konser pun telah usai, aku dan Puteri masih berada didalam stadium mencoba untuk menghubugi Eka. Tapi sayangnya ponsel Eka sedang sibuk.
‘nomor yang anda tuju sedang sibuk’ seru sang operator cerewet. “ya ampun. Nih anak nelpon siapa sih dari tadi sibuk mulu?” keluhku kesal.
“jangan-jangan Eka juga lagi nelepon lo lagi” sahut Puteri.
“bisa juga sih. Ya udah biar aja dia yang telepon. Pulsa gu juga udah sekarat”

Aku dan Puteri pun keluar stadium. Tapi kita berdua mampir dulu ke toilet. Siapa tahu ketemu member SuJu seperti tadi.
“Put, terus tuh boneka lo mau apain?” seruku dari dalam toilet.
“ga tahu nih. Gu simpen bikin sakit hati. Gu buang juga sayang” bals Puteri dari luar toilet.
“trus lo mau apain?” kini aku sudah selesai dan sekarang kami berdua menuju gerbang depan untuk pulang.
“tunggu dulu De” cegah Puteri. “kenapa?”
“sebentar ya, lo tunggu sini dulu. Ada yang ketinggalan” Puteri pun berlalu masuk kedalam stadium lagi membawa boneka Minnie mouse nya. Tidak lama Puteri keluar tanpa boneka Minnie mouse nya.
“kemana boneka Minnie mouse lo?” bukan menjawab Puteri hanya tersenyum pahit.

Puteri POV
‘mau gu apain yah nih boneka’ pikirku memegang boneka yang seharusnya buat Kibum. Kami berdua berjalan menuju gerbang depan untuk pulang.
“tunggu dulu De” tiba-tiba saja ada suatu hal yang aku harus lakukan. “kenapa?” tanya Dea heran. Aku juga heran dengan apa yang aku lakukan.
“sebentar ya, lo tunggu sini dulu. Ada yang ketinggalan” entahlah apa yang tertinggal. Kurasa barang bawaanku sudah aku masukkan kedalam tas. Hanya boneka Minnie mouse ini yang selalu aku pegang. Aku masuk kembali kedalam stadium didekat lorong dimana member SuJu berada. Penjagaannya sangat ketat. Tapi aku tidak berniat untuk menerobos penjagaan itu. Aku hanya ingin menengok sedikit. Akhirnya, kuputuskan untuk menaruh boneka Minnie mouse ini dilantai dekat belokan lorong ruang member SuJu. Aku tidak tahu kenapa aku melakukan ini. Tapi hatiku terus mengatakan demikian. Aku pun kembali keluar menemui Dea yang menungguku.
“kemana boneka Minnie mouse lo?” Dea terlihat heran melihat boneka Minnie mouse itu sudah tidak di tanganku lagi.
“mungkin sama Kibum” gurauku. Aku tahu itu mustahil, tapi aku percaya tidak ada yang mustahil di dunia ini.

Author POV
“hyung, kapan kita kembali ke Korea?” seseorang yang terlihat sangat lelah bersandar pada pundak lelaki yang dipanggilnya hyung itu.
“lusa kita kembali ke korea. Besok kita akan mengelilingi kota Jakarta lagi” sahut laki-laki itu.
“ya, yesung hyung kau jangan main handphone terus. Apa kau masih mau menemui gadis itu?” laki-laki yang dipanggil Yesung itu pun menghentikan langkahnya dan berbalik arah.
“Leeteuk hyung aku pergi sebentar dulu” kemudian Yesung pun pergi meninggalkan teman-temannya.
“memang nya Yesung hyung sudah bertemu dengan temannya itu?” tanya seorang laki-laki yang bertubuh paling kecil.
“ne, tadi pas dia menyanyikan lagu It Has To Be You dia menemui temannya itu. Apa kau cemburu Ryeowookie?” goda laki-laki bertubuh besar.
“anio Kangin hyung. Aku hanya penasaran saja dengan temannya Yesung hyung” balas Ryeowook.

Seorang laki-laki yang berjalan paling akhir yang terlihat sangat lelah menundukkan kepalanya sesaat, dan dilihatnya sebuah boneka yang ditinggal pemiliknya di lantai.
“ya, Kibum-ah apa yang kau lihat?” tanya laki-laki yang berparas seperti perempuan.
“igo Heechul hyung. Punya siapa?” tanya laki-laki yang dipanggil Kibum sambil mengambil boneka itu.
“mana ku tahu. Bawa saja kalau kau suka. Lagi pula itu kan tema hewan yang kau pakai dilagu Carnival” sahut laki-laki yang di panggil Heechul itu. Sejenak Kibum bepikir untuk mengambil nya atau tetap meninggalkannya. Tapi akhirnya ia membawa boneka Minnie mouse itu pergi bersamanya.

Eka POV
Akhrinya konser Super Show hari ini berakhir dengan penuh senyum. Selama 4 jam mereka semua menghibur para ELF yang sangat mengagumi mereka, termasuk aku. Kenangan ini akan terus aku simpan dalam ingatanku. Kenangan yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku bahwa aku pernah berjumpa dengan idolaku, Super Junior. Meskipun tidak secara dekat.

Sekarang semua penonton keluar stadium dengan tertib. Aku berusaha menghubungi Puteri dan Dea tapi ponselnya sibuk.
“duh, kok sibuk sih telepon nya Dea?” keluhku, tidak lama terdengar bunyi sms masuk dari ponselku. Kulihat ternyata dari Kim Yesung.

From : Kim Yesung
Maaf tadi aku terlambat. Jadi aku tidak diperbolehkan masuk oleh penjaganya.

‘hah? Masa sih? Pelit banget tuh penjaga’ pikirku. Aku pun membalas pesannya.

To Kim Yesung
Yang benar? Pelit banget penjaga nya. Terus kenapa ponsel mu tidak aktif dari tadi?

To the point aku langsung bertanya pada nya. Jangan-jangan dia hanya membohongiku. ‘tapi buat apaan dia ngeboongin gu sampe beliin gu tiket’ pikirku lagi menunggu balasan darinya. Tidak lama, dia membalas pesanku.

From : Kim Yesung
Ah, kalau itu. Aku tidak tahu kalau ponselku mati. Maaf. Bagaimana kalau sekarang saja kita bertemunya?

“sekarang?” seruku tiba-tiba. Aku menimbangkan hal ini dulu. Takut kalau dia ini seorang penjahat. “gimana ya? Ketemuan gak, ketemuan gak, ketemuan gak?” karena sibuk memikirkan masalah ini, aku tidak sadar menabrak seseorang.
“aduh! Maaf gak sengaja” seru seorang gadis yang aku tabrak.
“eh, iya aku juga minta maa.. lo ngapain disini?” ternyata gadis yang aku tabrak Dea.
“yeh, ni anak. Gu nyari lo tau” seru Dea
‘oh, trus Puteri kemana?” tanyaku karena tidak melihat sosok Puteri. Dea menunjuk dengan dagunya kearah tukang penjual es. “lagi beli minum dia”
“eh, iya gimana lo bisa ada disini?” tanya Dea langsung.
“ntar aja deh gu certain nya. Sekarang gu bingung nih”
“bingung kenapa Ka?’ tiba-tiba Puteri nongol didepan kami berdua.
“aduh lo ngagetin aja. Bilang dulu kek kalo udahan belinya” seru Dea yang memang tidak bisa dikagetin.
“sorry, abis tadi gu panggil gak nengok, ya gu samperin ajah. Kebetulan ada Eka juga” seru Puteri menjelaskan.
“kapan lo manggil? Gu gak denger. Lo denger Ka?” tanya Dea heran.
“denger kok” jawabku santai.
“kok lo gak ngasih tau?” Dea malah sibuk bertanya sedangkan Puteri sibuk menyeruput minumannya tanpa menawarkan kepada kami berdua.
“kan yang dipanggil lo, bukan gu. Ngapain gu yang jawab” balasku masih santai, Dea masih terlihat bingung. Sepertinya kuping nya sedikit terganggu karena konser tadi.
“udah ah, ributin yang gak penting ajah. Mending bantuin gu mikir” seru ku mengakhiri sesi tanya jawab (?)
“mikir apaan?” tanya Puteri yang sudah selesai menyeruput minumannya.
“Put, lo gak nawarin sama sekali apa?” celetuk Dea.
“nawarin apa?” Puteri masih bingung. “udah lupain ajah” seru ku menengahi.
“gini loh, ada yang ngajak ketemuan sama gu sekarang” jelasku.
“ketemuan? Sama siapa?” tanya Dea lagi. Sepertinya sekarang Dea lagi gemar bertanya.
“sama orang lah. Masa sama tuyul” kalau bukan temanku, sudah aku tendang dia.
“oh iya gu lupa, hehe. Abis gu aus banget tadi. Jadi lupa nwarin” seru Puteri tiba-tiba
“telat Puteri” teriak kami berdua tepat didepan wajahnya. Sontak Puteri menutup telinganya.
“aduh, biasa aja napa sih” sahut Puteri kesal.
“abis lo lemot banget mikirnya. Kita udah ganti topic lo malah nyasar kemana” balasku gemes.
“oh, ya udah sorry sorry. Gu lagi stress nih gara-gara si magnae” keluh Puteri.
“udah lo ceritanya ntar ajah. Mending lo bantuin gu mikir” balasku.
“emang mikir apaan?” tanya Puteri.
“lo jelasin deh De. Gu mau mikir dulu” sahutku, dan Dea pun mulai menceritakan apa yang aku pikirkan.

“gitu Put” Dea selesai menceritakan apa yang aku pikirkan setelah berkali-kali menjelaskan. “udah paham kan Put?” tanya Dea.
“oh, iya gu paham kok” seru Puteri tanpa dosa yang telah membuat Dea bercerita panjang lebar. “ya udah ajak ketemuan ajah Ka” usul Puteri.
Selama Dea menceritakan semua nya sebenarnya aku memang sudah menutuskan untuk bertemu dengan Kim Yesung. Tapi aku masih ragu. Dia mengirim pesan lagi,

From : Kim Yesung
Aku tunggu kau dibelakang gedung. Jangan terkejut ya kalau bertemu denganku

“aneh banget sih isi smsnya” seru Puteri yang tiba-tiba nongol disebelah kananku. “iya. Jangan-jangan muka dia jelek lagi” kini Dea muncul disebelah kiriku.
“heh, lo berdua ngagetin aja sih”
“itu Kim Yesung temen FB lo?” tanya Puteri. Aku menjawab dengan sebuah anggukkan.
“iya, dia yang beliin gu tiket SuShow” jelasku.
“kalo gitu ketemuan ajah. Kali ajah dia Yesung beneran’ usul Dea. “tapi kok meragukan gitu ya is isms nya?” balas Puteri sok tau.
“ketemuan gak nih?” aku minta pendapat kedua temanku ini, “ah, kelamaan mikir nya. Lo berdua ikut deh, jadi kalo ada apa-apa kan gu gak sendiri” aku pun menyeret Puteri dan Dea ikut bersamaku.

Author POV
Seorang laki-laki yang terlihat wspada dengan sekelilingnya berdiri dibelakang tembok besar dengan menggunakan masker dan topi hitam. Menunggu seseorang dari balik tembok dibelakang nya. Tangannya sibuk memencet tombol ponsenya. Tidak lama terdengar suara seorang gadis.
“ayo dong jalannya cepetan” seru gadis tersebut.
‘ah, mungkin itu dia’ batin laki-laki itu. Dia berusaha mengintip sedikit. Ternyata gadis itu tidak sendiri, ada 2 gadis lagi yang menemaninya.
‘aish, kenapa dia membawa orang lain. Bisa gawat ini’ keluh laki-laki itu dalam hati.
“mana orangnya?” sahut gadis yang berambut pendek.
“gak tau nih, mana gelap lagi” balas gadis yang aku ingin temui.
“tuh kan Ka, gu bilang apa. Mencurigakan nih” sambung gadis yang terlihat lebih tinggi.
“tunggu bentar deh, gu telepon dia dulu” gadis itu mengeluarkan ponsel nya dan mencoba menghubungi seseorang.
‘urineun syupeojunieoyeo, urineun syupeojunieoyeo, urineun syupeojunieoyeo’
“eh, lo denger gak tuh bunyi hape siapa?” gadis yang lebih tinggi itu pun mendengar baik-baik darimana asal suara ini
‘gawat gawat, bisa ketahuan nih’ laki-laki itu panic ketik ponsel nya bordering. ‘aish, seseorang tolong aku’ keluh laki-laki itu.
“dari balik tembok Ka” seru gadis berambut pendek itu.
“aish, mati aku” laki-laki itu terlihat ingin pergi sebelum sebuah suara menghentikan langkahnya.
“Kim Yesung?” suara yang tidak asing lagi terdengar memanggil nama laki-laki itu. Seketika laki-laki itu membalikkan tubuhnya.
Terlihat jelas raut wajah kaget di ketiga gadis tersebut.

Believe (part 5)

Author POV
Lagu Shining Star dibawakan dengan sempurna oleh pemiliknya. Kini mereka mengajak ELF bicara lagi.
“maaf jika membuat kalian menangis lagi” sang leader dengan rendah hati membungkukkan badannya. “ne, maaf. Padahal kami janji tidak akan ada air mata selama konser” sambung Sungmin. “baiklah sebagai permintaan maaf kami karena membuat kalian menangis, kami akan melamar kalian dengan lagu Marry U” sahut Leeteuk lagi. Semua ELF langsung berteriak histeris, dan lagu Marry U pun dinyanyikan. Semua ELF ikut bernyanyi bersama.

[Eunhyuk]
Love oh baby my girl
Geudaen naui juhnbu nunbushige areumdwoon
Naui shinbu shini jushin suhnmui
[Heechul]
Haengbokhangayo geudaeui gagman nunesuh nunmuri heureujyo
Gagman muhri pappuri dwel ddaeggajido
Naui sarang naui geudae saranghal guhseul na maengsehalgeyo
[Sungmin]
Geudaereul saranghandaneun mal pyuhngsaeng maeil haejugo shipuh
[Ryeowook]
Would you marry me? Nuhl saranghago akkimyuh saragago shipuh
[Kangin]
Geudaega jami deul ddaemada ne pare jaewuhjugo shipuh
[Heechul]
Would you marry me? Iruhn naui maeum huhrakhaejullae?
[Kyuhyun]
Pyuhngsaeng gyute isseule (I do)
Nuhl saranghaneun guhl (I do)
[Yesung]
Nungwa biga wado akkyuhjumyuhnsuh (I do)
Nuhreul jikyuhjulge (My Love)
[Donghae]
Hayan dressreul ibeun geudae tuxedoreul ibeun naui moseup
Balguhreumeul matchumyuh guhdneun woori juh dalnimgwa byuhre
I swear guhjitmal shiruh uishimshruh
Saranghaneun naui gongju stay with me
[Siwon]
Wooriga naireul muhgohdo wooseumyuh saragago shipuh
[Eeteuk]
Would you marry me? Naui modeun nareul hamgge haejullae?
[Ryeowook]
Himdeulgo uhryuhwuhdo (I do)
Neul naega isseulgge (I do)
[Yesung]
Woori hamggehaneun manheun nal dongan (I do)
Maeil gamsahalge (My Love)
[Kyuhyun]
Orae juhnbutuh nuhreul wihae junbihan
Nae sone bitnaneun banjireul badajwuh
[Yesung]
Oneulgwa gateun maemuro jigeumui yaksok giukhalge
Would you marry me?
[Sungmin]
Pyuhngsaeng gyute isseule (I do)
Nuhl saranghaneun guhl (I do)
Nungwa biga wado akkyuhjumyuhnsuh (I do)
Nuhreul jikyuhjulge (I do)
[All]
Himdeulgo uhryuhwuhdo (I do)
Neul naega isseulgge (I do)
Woori hamggehaneun manheun nal dongan (I do)
Maeil gamsahalge (My Love)
[Eunhyuk]
Naega geudae ege deuril guhseun sarangbakke uhbjyo
Geujuh geuppuninguhl bojalguhtuhbjyo
Suhtulluhbolgo manhi bujokhaedo naui sarang
Naui geudae jikyuhjulgeyo
Hangajiman yaksokhaejullae?
Museunil issuhdo
Woori suhro saranghagiro geuppuniya
[Ryeowook]
Nawa gyuhronhaejullae? I do

Selesai Marry U, semua member kembali ke dalam panggung. Seperti biasa, kami disuguhkan VCR sambil menunggu. VCR kali ini tentang kegiatan member selama berada di Indonesia. Mereka mengunjungi salah satu tempat pariwisata terkenal di Jakarta, yang juga melambangkan kota Jakarta. Ya, mereka mengunjungi Monas. Mereka naik kelantai yang paling atas. Melihat tingkah mereka yang takjub melihat kota Jakarta dari atas sangat menghibur. 2 orang gadis sedang rebut berdebat.
“kok gu gak tau kalo mereka ngunjungin Monas sih Put?”
“sama, gu juga gak tau. Kapan mereka ke Monasnya?” balas temannya juga heran.
“kok bisa gak ada diberita ya?” tanya seseorang disebelah mereka yang juga bingung.

Sesaat lampu kembali dinyalakan, dan alunan musik Sorry Sorry menggema seisi stadium. “kyaaaaaa….” Semua penonton kini lupa sejenak dengan VCR tadi. Seluruh personil Super Junior dengan Henry dan Zhoumi membawa lagu Sorry Sorry dengan sangat sempurna dengan koreografi yang sangat keren.

Eka POV
“Zhoumiiii , Henryyyy, keren gila lo berdua dance sorry sorry” teriak ELF disebelahku. Akuy menutup telingaku karena sakit mendengar teriakan para ELF yang mulai menggila meneriakki nama Zhoumi dan Henry yang sekarang berdiri diatas panggung. Ya, aku juga senang sebenarnya. Karena mereka baru pertama kali tampil lengkap ber15 seperti ini membawa satu lagu. Apalagi lagu ini sangat terkenal diseluruh dunia. Penampilan Zhoumi dan Henry kali ini benar benar membuat ELF teriak histeris. Apalagi Zhoumi menggantikan posisi Yesung dalam bagian puncaknya. Sedikit tidak rela sih, karena part Yesung diambil oleh Zhoumi. Tapi karena hal ini juga, seperti nya aku mulai suka dengan Zhoumi. Apalagi setelah melihatnya secara langsung di backstage tadi. Ternyata tidak seperti yang aku bayangkan sebelum nya, kalau mereka akan sombong jika bertemu fans nya. Seperti nya aku ELF yang beruntung kali ini. Tapi sialnya, Dea dan Puteri jadi tahu kalau aku juga disini. Pasti nanti dirumah aku bakal diserbu beribu ribu pertanyaan dari mereka. Memikirkannya saja sudah membuatku frustasi. Tapi aku tidak mau ambil pusing dulu. Aku mau menikmati konser ini dulu.

Selesai membawakan lagu Sorry Sorry, mereka kembali ke backstage dan seperti biasa, lampu dipadamkan sebentar. Kemudian tidak lama setelah itu, muncul sesosok namja yang sangat aku kenal dengan baik. Namja yang sangat ku kagumi. Kini dia berdiri sendiri begitu dekat dengan ku. Iringan music It Has To Be You pun mengalun dengan lembut ditelingaku. Senyum nya mengembang dengan sangat indah, membuat ELF meleleh melihatnya. Selanjutnya, aku hanya bisa mendengar suara yang sangat menenangkan hati. Penglihatanku mulai kabur, karena air mataku yang mau jatuh. Kucoba untuk menahannya, tapi tidak bisa, air mata ini jatuh dengan sendirinya. Perlahan tapi pasti satu impianku lagi telah terpenuhi, melihat dari dekat Kim Yesung yang selama ini hanya aku bisa lihat dalam foto atau video. Dia terus saja bernyanyi sambil menebarkan senyumnya. Sesekali dia menutup matanya untuk menghayati lagu itu. Mataku juga ikut terpejam menghayati setiap lirik yangt keluar dari mulutnya, sampai saat aku membuka mataku, aku terkejut karena sekarang dia berada dihadapanku. Sekarang dengan jelas aku bisa melihatnya, sangat jelas. Perlahan tangan nya ingin menggapai sebuah tangan. Kupikir dia akan meraih tanganku, tapi ternyata aku tak seberuntung ELF yang ada si sampingku, tangannya lah yang dipegang Yesung. Suara teriakkan ELF makin menjadi saat idolaku mencium punngung tangan ELF itu. Kesal? Sudah pasti. Tapi apa yang bisa aku buat? Dia hanya idola untukku. Wajar saja jika dia melakukan adegan ini dengan fans nya, mungkin hanya sebagai rasa ucapan terima kasih. Tapi entah kenapa hatiku sakit melihat ini. Ya, sangat sakit. Mengapa bukan aku yang berada diposisi gadis ini? Yang pasti rasaku saat ini sangat marah. Tapi bukan marah dengan Yesung, melainkan dengan gadis yang disebelahku ini. Dan juga temanku yang satu itu, mengapa dia tidak memilihkan aku bangku yang diduduki gadis ini? “udah tidak datang, salah memilih tempat duduk lagi.” Pikirku mengomeli Kim Yesung. “aish, apa yang aku pikirkan? Dia sudah baik-baik membelikan aku tiket nonton, tapi kenapa aku menyalahkannya? Dasar bodoh?” runtukku sendiri.

Selesai penampilan solo Yesung, dari bawah panggung muncul Sungmin, Donghae, Ryeowook dan Kyuhyun. Yesung pun berjalan menghampiri mereka. Sedikit berbasa basi mungkin, Sungmin bilang kalau merasa iri dengan Yesung. Tapi entah apa yang Sungmin irikan, aku tidak tahu karena Ryeowook tiba tiba memeluk Sungmin, dan kembalilah MinWook Couple keatas panggung. Kyuhyun memisahkan Sungmin dan Ryeowook yang sedang asik berpelukan, dan akhirnya lagu My All Is in You pun dimulai. Diawal lagu, semua berjalan seperti biasanya, Mereka menyanyikan sesuai part mereka. Tapi saat bagian tengah, mncul Kangin, Hangeng, dan Kibum dan langsung saja semua penonton berteriak lagi, kurasa suara mereka akan habis saat konser habis pikirku. Hangeng, Yesung, Kangin, Sungmin, Eunhyuk, Donghae, Ryeowook, Kibum dan Kyuhyun pun menyanyikan bagian rap nya. Dan diakhir lagu, semua member muncul satu persatu. Kami semua bernyanyi bersama mengikuti alunan lagu.

Sekarang diatas panggung berdiri seorang magnae SuJu, Kyuhyun. Yang lain nya kini sidah kembali ke backstage. Seperti nya kini giliran Kyuhyun menyanyi solo. Aku tahu pasti ini saat yang ditunggu tunggu oleh Dea, karena dia suka sekali dengan Kyuhyun, tapi tetap Siwon nomor 1 dihatinya. Kyuhyun pun mulai bernyanyi.

Dea POV
“gila, beruntung banget tuh ELF dicium tangan nya sama Yesung” sahut Puteri sambil melihat ke layar lebar. “hus, gu justru kasian mikirin Eka. Gimana tuh anak kalo liat nih adegan. Bisa ancur kamar kita” balasku sambil memukul pelan kepala Puteri. “eh iya, Eka kan lagi nonton juga disini” Puteri kini berbalik menghadapku. “oh iya. Wah gu jamin nanti pasti dia nangis kejer” sekarang gentian, aku malah kena pukul Puteri. “lo juga, bukannya mikirin gimana nasib Eka malah sumpahin” omel Puteri. “iya iya.”

Sekarang giliran Kyuhyun yang tampil solo. Dia berdiri lumayan dekat dengan posisi ku sekarang. “omo, Put Kyuhyun ganteng banget” seruku histeris. “iya, keren banget De, gu bisa naksir nih sama Kyuhyun” seketika aku memandang Puteri dengan tatapan siap menerkam mangsanya. “hehe, iya gu Cuma becanda doing kok” Puteri pun langsung menarik kembali kata katanya. Aku tersenyum puas padanya. “lo kan udah punya Siwon. Masa Kyuhyun jug mau lo embat sih?” tanya Puteri. “yah, kan kalo gak bisa dapet Siwon, gu bisa dapet Kyuhyun” jawabku santai sambil mendengarkan alunan lagu Hope Is A Dream That Doesn’t Sleep yang Kyuhyun bawakan.

Puteri POV
‘haa, temanku yang satu ini beruntung sekali. Bisa berada sedekat ini dengan idolanya. Sedangkan aku? Susah sekali memberikan hadiah ini untuk Kibum’ keluhku melihat Dea yang senang karena melihat Kyuhyun sedekat ini setelah dia berhasil memberikan hadiahnya untuk Siwon. Aku terus memegang boneka Minnie mouse yang ingin aku hadiah kan untuk Kibum. Tapi sedari tadi aku susah sekali menjangkaunya. Terlalu jauh untukku. Sudah ingin aku lempar boneka ini keatas panggung, tapi ku urungkan lagi. Karena aku ingin Kibum tahu bahwa boneka ini pemberian dariku. Setengah sadar aku mendengarkan Kyuhyun bernyanyi. Dan tanpa sadar juga Kyuhyun sudah selesai bernyanyi. Seseorang menepuk punggungku. “ya?” reflex aku lagsung menghadap orang yang memukul punggungku. “kenapa De?” ternyata Dea yang menepuk punggungku. “lo kenapa? Kok ngelamun?” tanya Dea. “ah , gak apa. Gu kan lagi denger Kyuhyun nyanyi” elakku meutupi nya. “Kyu udah selesai nyanyinya” jawab Dea. “loh? Oh iya, gu gak sadar” aku tersenyum paksa untuk menutupinya lagi. Sekilas mata Dea tertuju pada boneka yang aku pegang. “kenapa?” tanyaku. Dea tersenyum singkat. “tenang ajah, lo pasti bisa ngasih ini buat Kibum” Dea memegang boneka Minnie mouseku. Entah aku harus senang atau sedih saat ini. Yang pasti ku tersenyum mendengar harapan itu. Air mataku tak dapat aku tahan, aku menangis sambil memeluk boneka ini. “jangan nangis. Kan tadi Leeteuk bilang gak mau ada air mata di sini, ya?” bujuk Dea membuat aku berhenti menangis. Ya, aku tidak mau mengecewakan impian sang Leader SuJu. “nah, gitu dong. Lo pasti bisa kok. Semangat !” senyumku mengembang saat mendengar kata kata semangat Dea. Ya, aku harus terus berusaha, ELF yang lain pun pasti begitu. ‘semangat semangat semangat!’ seruku dalam hati.

Author POV
Selesai Kyuhyun membawakan lagu solo nya, kini semua member SuJu naik ke stage. Berdiri membuat satu barisan ke samping. Seperti yang mereka lakukan sebelum nya, mereka mengajak ELF komunikasi. “apa kalian masih ingin bernyanyi?” tanya Kangin antusias. “yaaa” teriak seluruh ELF. “baiklah kami akan bernyanyi unyuk kalian lagi” sambung Kangin, tapi Heechul memukul lengan nya dan berkata, “ya! Apa kau tidak lelah bernyanyi terus hah ?!” kata kata itu membuat ELF bersedih, tapi Kangin dengan santai membalas, “hyung, aku sudah lama tidak bernyanyi, jadi apa salah nya aku ingin terus bernyanyi. Iya kan Kibum ah, hankyung hyung?” dan mereka berdua pun mengangguk tanda setuju. Hal ini membuat ELF bertambah semangat. “ya ya ya, sudahlah. Kita semua juga ingin terus bernyanyi Kangin ah, tapi kita juga perlu istirahat. ELF semua, apa kalian puas dengan konser kali ini?” tanya sang leader, Leeteuk. “tidakkkk!!” teriak semua ELF. “omo, kalian kurang puas? Oke, sekarang kami akan membawakan lagu terakhir untuk konser ini” sahut Yesung. “Kibum ah, apa lagu yang ingin kau bawakan untuk yang terakhir?” tanya Hangeng langsung, dan semua member melihat kearah Kibum untuk menunggu jawabannya. “umm, aku ingin menyanyikan lagu dialbum ke4 kami, Neo Gateun Saram Tto Eopseo” jawab Kibum. “yak, Kibum telah memutuskan untuk menyanyikan lagu No Other. Ah, sebelum itu, aku minta maf karena membuat kalian menangis tadi.” Sahut Donghae sambil membungkukkan bandannya sedikit. “ya, kami semua minta maaf dan berterima kasih karena ELF semua mau menerima kami datang ke Indonesia. ELFreul, kamsahamnida” ucap Leeteuk kemudian membungkukkan badanya sebagai tanda terima kasih, member lain pun mengikuti Leeteuk dan membungkukkan badan mereka. Dan mereka pun kini bersiap di posisi masing masing. Kibum berada ditengah panggung utama, disisi kanan dan kiri panggung utama berdiri Kangin dan Hangeng. Dipanggung tengah ada Leeteuk, disusul Yesung yang berdiri dipanggung depan. Mereka mengunjungi setiap bangku ELF, agar ELF merasa lebih dekat dengan member SuJu. Mereka pun mulai menyanyikan lirik demi lirik lagu No Other

[Siwon]
Neogateun saram tto eopseo
Juwireul dureobwado geujeo georeohdeongeol eodiseo channi
Neo gatchi joheun saram neo gatchi joheun saram neo gatchi joheun ma eum neo gatchi joheun seonmul
[Yesung]
Neomu dahaeng iya aesseo
Neorel jikyeojul geu sarami baro naraseo eodiseo channi
Na gatchi haengbokhan nom na gatchi haengbokhan nom na gatchi unneun geureon choegoro haengbokhan nom
[Kangin]
Neoui ttatteuthan geu soni chagapge, chagapge shikeo isseul ttae
Neoui ganghaetdeon geu maeumi nal karopge sangcheo badasseul ttae
[Kibum]
Naega jaba julge anajulge salmyeoshi, geugeoseuro jakeun iroman dwendanyeon johgesseo
Eonjena deo maneun geol haejugo shipeun nae mam neon da mollado dwae
[Hangeng]
Gaseumi sorichyeo marhae jayuro-un nae yeonghon
Eonjena cheo-eumui imaeum euro neoreul saranghae georeo watdeon shiganboda nameun nari deo manha
[Heechul & Hangeng]
Neogateun saram tto eopseo
Juwireul dureobwado geujeo georeohdeongeol eodiseo channi
Neo gatchi joheun saram neo gatchi joheun saram neo gatchi joheun ma eum neo gatchi joheun seonmul
[Eunhyuk]
Neomu dahaeng iya aesseo
Neorel jikyeojul geu sarami baro naraseo eodiseo channi
Na gatchi haengbokhan nom na gatchi haengbokhan nom na gatchi unneun geureon choegoro haengbokhan nom
[Yesung]
Naui ganan haetdeon maeumi nunbushige jeomjeom byeonhaegal ttae
Jakeun yokshimdeuri deoneun neomchiji anhge nae mamui geureut keojyeogalttae
[Sungmin]
Argo isseo geu modeun iyuneun bunmyeonghi nega isseo ju-eotdaneun geot geu, geot ttak hana ppun
Eonjena gamsahae naega mankeum geuri jalhal su iggenni
[Eeteuk]
Gaseumi sorichyeo marhae jayuro-un nae yeonghon
Eonjena cheo-eumui imaeum euro neoreul saranghae georeo watdeon shiganboda nameun nari deo manha
[Ryeowook]
Neogateun saram tto eopseo
Juwireul dureobwado geujeo georeohdeongeol eodiseo channi
Neo gatchi joheun saram neo gatchi joheun saram neo gatchi joheun ma eum neo gatchi joheun seonmul
[Kyuhyun]
Neomu dahaeng iya aesseo
Neorel jikyeojul geu sarami baro naraseo eodiseo channi
Na gatchi haengbokhan nom na gatchi haengbokhan nom na gatchi unneun geureon choegoro haengbokhan nom
[Eunhyuk]
Itjanha jogeum aju jogeum na sujupjiman neon molla sokeun taeyangboda tteugeoweo nae mam jom arajweo
[Kibum]
TV show-e na oneun girl deureun mudae-eseo bichi nunbusyeo([Shindong] naega michyeo michyeo baby)
Saranghndan neoui mare sesangeuk da gajin nan you & I
You’re so fine neo gateun saram isseulkka
[Shindong]
Saranghae oh, negeneun ojik neoppun iran geol babo gateun na-egeneun jeonburaneungeol aeajweo
[Kyuhyun]
Gateun gireul georeo wasseo urin seoro dalpagago itjanha nolla-ul ppuniya goma-ul ppuniya saranghal ppuniya
[Sungmin]
Neogateun saram tto eopseo
Juwireul dureobwado geujeo georeohdeongeol eodiseo channi
Neo gatchi joheun saram neo gatchi joheun saram neo gatchi joheun ma eum neo gatchi joheun seonmul
[Siwon]
Neomu dahaeng iya aesseo
Neorel jikyeojul geu sarami baro naraseo eodiseo channi
Na gatchi haengbokhan nom na gatchi haengbokhan nom na gatchi unneun geureon choegoro haengbokhan nom
[Kangin,Kibum,Hangeng]
Neo gateun saram tto eopseo

Lagu No Other pun selesai, semua member member salam perpisahan kepada semua ELF yang hadir malam ini. Diiringi lagu Happy Together, semua member SuJu berjalan menyusri semua sisi panggung menyapa semua ELF, mengambil hadiah yang ELF berikan untuk mereka. Ada yang memberi potobook buatan sendiri, boneka, dan yang lainnya. Selesailah SuJu bersenang senang bersama ELF dihari ini. Lampu panggung ini benar benar mati. ELF semua berharap SuJu menghadiahkan sebuah lagu lagi untuk mereka, tapi harapan itu pupus karena lampu panggung tak kunjung menyala juga. Perlahan seluruh ELF meninggalkan panggung konser. Beberapa ELF masih menunggu kemunculan SuJu lagi, tapi tidak juga muncul. Yah, selesailah konser kali ini. Selama 4 jam penuh seluruh member SuJu membuat imipan ELF Indonesia menjadi kenyataan. Dan kini akan menjadi kenangan yang tidak akan terlupakan bagi yang menontonnya.

Kini seluruh stadium hampir kosong, menyisakan beberapa ELF yang masih berbasa basi mengobrol dengan temannya.